Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Yusuf Dimasukkan Sumur

4 min read

Ilustrasi, Yusuf Dimasukkan Sumur

Firman Allah dalam Surat Yusuf Ayat 15-18

“Maka disaat mereka membawa pergi Yusuf dan sepakat memasukkan ke dasar sumur. Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.” Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis. Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami. Lalu dia dimakan serigala dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.” Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yaqub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu, maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). “Hanya Allah semata Dzat yang dimintai pertolongan atas apa yang kalian beritakan”. (QS. Yusuf Ayat 15-18).

Mujahid dan Qatadah menafsirkan, Maksud dari kalimat “tidak menyadari” pada ayat di atas adalah bahwa ketika itu Allah mewahyukan kepada Yusuf tentang janji itu. Sedangkan makna yang diriwayatkan oleh lbnu Jarir dari Ibnu Abbas menyebutkan, bahwa makna dari firman Allah, “sedang mereka tidak menyadari.” adalah, “Kita akan membuka perbuatan mereka ini tatkala mereka tidak mengenali siapa dirimu ketika itu.”[1]

Usulan Untuk Tidak Membunuh Yusuf

Menurut versi Ahli Kitab, orang yang mengusulkan agar Yusuf dimasukkan sumur adalah Ruben, ia bermaksud agar saudara-saudaranya tidak membunuhnya. Dan nanti setelah Yusuf diceburkan, ia akan kembali ke sumur tersebut dan mengembalikan Yusuf kepada ayahnya. Namun ternyata saudara-saudara Yusuf yang lain lebih dahulu mengambil Yusuf dari sumur tersebut dan menjualnya kepada para musafir.

Maka ketika Ruben datang di sore hari untuk mengeluarkan Yusuf dari sumur itu, ia tidak mendapatinya. Lalu ia pun berteriak dan mencabik-cabik baju Yusuf. Kemudian ia mendatangi saudara-saudaranya yang lain untuk mencari tahu, dan setelah diberitahukan maka mereka pun mengambil seekor domba untuk kemudian disembelih, dan setelah itu mereka melumurkan darah domba itu ke baju Yusuf.

Lalu setelah mereka menceritakan rekayasa tersebut, Ya’qub pun merobek-robek bajunya sendiri, dan setelah itu ia selalu mengenakan sarung hitam untuk menutupi tubuhnya, dan ia pun menangisi kepergian Yusuf hingga berhari-hari lamanya. Namun kisah ini tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya sebagaimana diceritakan di dalam AlQur’an.

Pembujukan dan Proses Yusuf Dimasukkan Sumur

Saudara-saudara Yusuf terus membujuk ayah mereka untuk mengizinkan mereka membawa Yusuf, hingga akhirnya ayah mereka pun luluh hatinya dan memberikan izinnya. Namun ternyata sikap baik mereka tidak berlangsung lama. Karena setelah hilang dari pandangan ayah mereka, Yusuf langsung dicerca dengan kata-kata dan perbuatan yang buruk.

Seperti yang telah disepakati, akhirnya Yusuf dimasukkan sumur. Yakni di bagian tepi sebelum mencapai dasarnya, yaitu pada sebuah batu yang biasanya terdapat ditengah-tengah sumur untuk digunakan oleh pengambil air (al-maih). Jika di sumur tersebut airnya sedang surut (orang yang mengambil air sumur dengan langsung menggunakan tangan dinamakan al-maih. Sedangkan orang yang mengambil air sumur dengan menggunakan tali dinamakan al-matih).

Setelah Yusuf dilemparkan ke dalam sumur tersebut, Allah mewahyukan kepada Yusuf, “Kamu harus tetap merasa gembira, ikhlas, dan yakin bahwa kamu pasti akan dikeluarkan dari kesulitan ini, dan kamu nanti juga akan memberitahukan kepada saudara-saudaramu itu tentang keburukan perbuatan mereka ini ketika kamu menjadi seseorang yang terhormat nantinya sementara mereka sangat membutuhkan bantuanmu dan merasa takut terhadap jabatanmu, “sedang mereka tidak menyadari.

Setelah saudara-saudara Yusuf melemparkan saudara mereka sendiri ke dalam sumur dan mengambil bajunya, mereka kembali ke rumah. Ketika di perjalanan, mereka melumuri baju Yusuf dengan darah untuk mengelabui ayah mereka. Kemudian setelah sesampainya mereka di rumah mereka menangis tersedu-sedu. Kejadian inilah yang kemudian oleh para ulama salaf dijadikan ungkapan, “Janganlah kalian tertipu dengan tangisan orang yang berpura-pura dizhalimi. Karena berapa banyak orang yang zhalim tap mereka dapat menangis tersedu-sedu, seperti yang dilakukan oleh saudara- saudaranya Yusuf.”

Pengelabuan itu dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf pada petang hari, yakni ketika hari menjelang malam, karena dengan kegelapan itulah rencana mereka dapat berhasil.

Laporan Rekayasa Kepada Ya’qub

Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami.” Yakni dekat pakaian-pakaian mereka yang sebelumnya ditanggalkan. “Kemudian Yusuf diterkam serigala.” Yakni, Disaat kami lengah karena terlalu asyik sedang berlomba. “Dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.” Yakni, engkau tidak akan mempercayai apa yang kami katakan bahwa Yusuf benar-benar dimakan oleh serigala. Karena yang terjadi ini sesuai dengan yang engkau tuduhkan kepada kami sebelumnya. Bagaimana kami tidak merasa tertuduh, sebab sebelum kami mengajaknya saja engkau sudah merasa khawatir ia akan dimakan oleh serigala, dan kami juga sudah meyakinkanmu bahwa ia tidak akan dimakan oleh serigala karena kami akan selalu berada di sekelilingnya. Maka kami sekarang sudah tidak dipercayai lagi, dan engkau pantas untuk tidak mempercayai kami lagi, namun sayangnya kejadian yang sesungguhnya memang seperti itu.

“Dan mereka pulang membawa baju gamis Yusuf (yang berlumuran) darah palsu.” Padahal lumuran darah itu bukan darah Yusuf, akan tetapi darah kambing yang mereka sembelih sebelumnya, lalu mereka melumurkan darah tersebut ke baju Yusuf, agar ayah mereka dapat terkelabui bahwa Yusuf telah dimakan oleh serigala.

Para ulama berkata, “Namun mereka lupa untuk merobek-robek baju tersebut, dan memang benar kiranya bahwa penyakit kebohongan itu adalah lupa!”.

Ketika terlihat oleh Ya’qub tanda-tanda keraguan pada anak-anaknya itu, maka mereka pun tidak dapat lagi meyakinkan ayah mereka dengan cerita yang mereka rekayasakan. Sebab, Ya’qub memang sebelumnya sudah mengendus kebencian dan rasa iri anak-anaknya itu terhadap Yusuf, yang disebabkan lebih besarnya rasa cintanya terhadap Yusuf dibandingkan yang lain, dan ia pun memang merasa demikian.

Karena Yusuf sejak dari kecil sudah terlihat kewibawaan dan keagungannya sebagai sinyalemen dari bibit kenabiannya. Dan juga karena anak-anaknya itu terlalu memaksa ketika hendak membawa Yusuf bermain dengan mereka. Maka setelah mereka berhasil membawanya, mereka langsung memanfaatkan kesempatan tersebut dan melenyapkannya, lalu mereka pulang dengan berpura-pura menangis dan segala tipu daya yang mereka upayakan.

Oleh karena itu, Ya’qub berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan hanya kepada Allah saja meminta pertolonganNya terhadap apa yang kalian beritakan”.

Nabi Yusuf Dimasukkan Sumur

Ketika Nabi Yusuf berada di dalam sumur, ia hanya duduk termangu menunggu penyelamatan dari Allah. Tidak lama kemudian datanglah serombongan kafilah yang ingin mengambil air dari sumur tersebut.

Menurut versi Ahli Kitab, ketika itu barang-barang yang dibawa oleh kafilah itu antara lain damar, balsam, dan damar ladan. Mereka berangkat dari negeri Syam dan bermaksud pergi ke negeri Mesir.

Kemudian ada beberapa orang dari kafilah tersebut yang diperintahkan untuk mengambil air dari sumur tersebut. Lalu ketika salah salu dari mereka menurunkan embernya, maka tersangkutlah Yusuf di ember yang diturunkan itu. Ketika orang yang menurunkan ember itu melihat Yusuf, “Dia berkata, “Oh, senangnya, ini ada seorang anak muda.”

Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Yakni, mereka memasukkan Yusuf ke dalam barang dagangannya.

“Dan Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui tentang apa yang mereka lakukan.” Allah mengetahui secara persis mengenai apa yang dikonspirasikan oleh saudara-saudara Yusuf dan yang dirahasiakan oleh orang-orang yang menemukan Yusuf dengan menjadikannya sebagai barang dagangan.

Meski demikian, Allah tidak mengubah keadaan itu, karena Dia Maha Mengetahui tentang takdir segala sesuatu, hikmah dari kejadian tersebut, dan rahmat bagi para penduduk Mesir setelah keberadaan Yusuf di sana. Karena di tangan Yusuf yang saat itu menjadi tawananlah kemudian negeri Mesir berada dalam genggamannya, hingga masyarakat Mesir dapat mengambil manfaat, baik untuk dunia mereka maupun untuk kehidupan akhirat nanti.

Kemudian, ketika saudara-saudara Yusuf melihat ada kafilah yang Tembawa adik mereka, maka mereka pun mengejar kafilah tersebut Mereka berkata, “Budak ini adalah milik kami, mengapa kalian ingin membawanya?”. Lalu kafilah tersebut menyerahkan sedikit uang kepada saudara-saudara Yusuf untuk melepaskannya. Hanya beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.

Sejumlah ulama, diantaranya Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Nauf Al-Bikali, As-Suddi, Qatadah, Athiyah Al-Aufi, mengatakan. Bahwa saudara-saudara Yusuf menjual adiknya dengan harga dua puluh dirham. Kemudian hasilnya dibagikan dengan merata dua dirham dua dirham. Mujahid mengatakan bahwa harga yang mereka dapatkan hasil dari menjual adiknya adalah 22 dirham. Sedangkan Ikrimah dan Muhammad bin Ishaq mengatakan bahwa mereka menjual Yusuf dengan harga 40 dirham.[2]

Kisah tentang Nabi Yusuf Dimasukkan Sumur ini dikutip dari sumber terpercaya dan bisa dipertanggung jawabkan kevalidannya. Silahkan Kunjungi Sepatumerah.net untuk mendapatkan pengetahuan sejarah Para Nabi yang mungkin belum anda ketahui secara mendalam.

Referensi

[1] Tafsir Ath Thabari (12/161) dan Tafsir Ibnu Katsir (2/471).

[2] Tafsir bn Katsir (2/472).

Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Kisah Nabi Adam

Ulum
7 min read

Keistimewaan Nabi Sulaiman

Ulum
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *