Tugas Kenabian Diberikan Khusus kepada Yusuf

Tugas Kenabian

Firman Allah tentang Tugas Kenabian yang diberikan Khusus kepada Yusuf

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Dia (ayahnya) berkata, “Wahai putraku! Janganlah kamu ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu. Mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan). Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi manusia.” Dan demikianlah Tuhan telah memilihmu (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, yaitu) ibrahim dan Ishaq. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahul lagi Maha Bijaksana.”
(Yusuf: 4-6)

Tafsir Firman Allah tentang Tugas Kenabian Nabi Yusuf

Mengenai ayat di atas tadi, para ulama tafsir mengatakan, ketika Nabi Yusuf masih kecil dan belum mencapai usia baligh, ia pernah bermimpi seakan melihat sebelas bintang. Kesebelas bintang itu diumpamakan sebagai kesebelas saudara-saudaranya yang lain, lalu ia juga melihat matahari dan bulan yang diumpamakan sebagai ayah dan ibunya. Namun kesemuanya itu tunduk bersujud kepadanya. Maka ia pun menjadi bingung dengan arti dari mimpi tersebut.

Di pagi harinya, ia bercerita tentang mimpinya itu kepada ayahnya. Dan ayahnya pun langsung memahami bahwa anaknya itu akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan derajat yang agung, baik di dunia maupun di akhirat. Pasalnya, di dalam mimpi tersebut ia mendapatkan kehormatan dengan ketundukan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya di hadapannya.

Maka Ya’qub pun berpesan kepada Yusuf untuk tidak menceritakan mimpinya tersebut dan menyembunyikannya dari saudara-saudaranya yang lain. Agar mereka tidak menjadi iri dan berbuat sesuatu yang buruk terhadapnya. Sifat-sifat inilah yang menjadi bukti bahwa saudara-saudara Yusuf tidak ada yang diangkat menjadi Nabi.

Perintah dari Ya’qub ini sesuai dengan makna dari sebuah atsar yang menyebutkan, “Apabila kalian ingin mewujudkan suatu mimpi, maka bantulah diri kalian sendiri dengan menutupinya (tidak menceritakannya kepada orang lain). Karena setiap orang yang memiliki kenikmatan itu pasti akan dicemburui.”[1]

Menurut versi Ahli Kitab, setelah mengalami mimpi tersebut Yusuf menceritakan kepada ayahnya dan juga saudara-saudaranya bersama-sama. Namun tentu saja keterangan ini tidak benar.

Ayat selanjutnya, “Dan demikianlah..” Yakni, Tuhanmu telah memperlihatkan mimpi itu kepadamu, apabila kamu menyembunyikannya dari saudara-saudaramu maka “Tuhan memilih engkau”, yakni Tuhan akan memberikanmu rahmat dan karunia-Nya kepadamu, “dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi.” yakni, memberikan ilmu pemahaman dan tafsir mimpi yang tidak dipahami oleh orang lain.”

“Dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.” Yakni dengan menurunkan wahyuNya kepadamu, “dan kepada keluarga Ya’qub”. Yakni melalui dirimu, hingga mereka dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. “Sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq”. Yakni kenabian yang diberikan kepadamu nanti itu sama seperti kenabian yang diberikan kepada ayahmu, Ya’qub. Dan kakekmu, Ishaq. Dan juga buyutmu, Ibrahim. “Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” yakni Tuhanmu Maha Mengetahui kepada siapa kenabian itu harus diberikan. Makna ini seperti disebutkan pada ayat lain, “Allah lebih mengeiahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya.” (Al-An’am: 124).

Dikarenakan kenabian Yusuf itulah makanya ketika Nabi Muhammad ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?”. Beliau Nabi Muhammad menjawab, “Nabi Yusuf adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah. Anak dari seorang Nabi yang diutus oleh Allah (Ya’qub). Cucu dari seorang Nabi yang diutus oleh Allah (Ishaq). Dan cicit dari seorang Nabi yang menjadi kesayangan Allah (Ibrahim)”.[2]

Perbedaan Pendapat tentang Kenabian Saudara-saudara Nabi Yusuf

Telah kami sampaikan sebelumnya, bahwa Ya’qub memiliki dua belas orang putra, dan kami juga telah menyebutkan semua nama-nama mereka. Kepada seluruh putra-putra Ya’qub itulah semua keturunan Bani Israil berasal. Namun yang paling mulia, paling agung, dan paling terhormat di antara mereka semua adalah Yusuf seorang.

Sejumlah ulama berpendapat, bahwa dari kedua belas anak Ya’qub tersebut hanya Yusuf lah yang menerima tugas kenabian. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain tidak pernah mendapatkan wahyu dari Tuhan. Hal ini juga sebenarnya dapat terlihat dan terbukti dari kisah perjalanan hidup mereka, yakni dari perkataan dan perbuatan mereka sendiri.

Namun beberapa ulama berpendapat, bahwa anak-anak Ya’qub yang lain selain Yusuf juga diangkat menjadi Nabi. Dalilnya adalah firman Allah, “Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami. Dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya.” (Al-Baqarah: 136). Para ulama ini mengira bahwa kesebelas putra Ya’qub selain Yusuf itulah yang dimaksud dengan kata “asbat” (anak cucunya) pada ayat ini. Namun tentu saja dalil itu tidak kuat, karena yang dimaksud dengan kata “asbat” pada ayat di atas ditujukan kepada seluruh bangsa Bani Israil dan Nabi-Nabi dari bangsa tersebut yang diturunkan wahyu kepada mereka. Wallahu a’lam.

Bukti lain bahwa Yusuf adalah satu-satunya anak Ya’qub yang mendapatkan tugas kenabian adalah tidak adanya keterangan Al-Qur’an yang menunjukkan tentang kenabian saudara-saudara Yusuf. Maka ketidak adanya keterangan tersebut menunjukkan bahwa memang tidak ada anak Ya’qub yang diangkat menjadi Nabi selain Yusuf.

Hal ini juga diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, dari Abdus Shamad, dari Abdurrahman bin Abdillah bin Dinar, dari ayahnya, dari Ibnu Umar. Bahwa Nabi bersabda, “Seorang yang mulia, anak dari seorang yang mulia, cucu dari seorang yang mulia, cicit dari seorang yang mulia, yaitu Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.”[3]

Imam Bukhari juga menyebutkan hadits yang sama dalam kitab shahihnya, namun ia menyebutkan sanad yang tidak disebutkan oleh imam hadits lain,[4] yaitu melalui Abdullah bin Muhammad dan Abdah, dari Abdus Shamad bin Abdul Warits, dan seterusnya seperti riwayat sebelumnya dan seperti telah kami sebutkan pada kisah Nabi Ibrahim.

Nama Bintang-bintang yang telah Bersujud Kepada Nabi Yusuf didalam Mimpinya

Diriwayatkan, oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsir mereka, juga oleh Abu Ya’la dan Al-Bazzar dalam kitab musnad mereka, dari Hakam bin Zahir (perawi ini dikategorikan oleh para ulama sebagai perawi yang lemah), dari As-Suddi, dari Abdurrahman bin Sabith, dari Jabir, ia berkata, “Pada suatu hari Nabi kedatangan seorang laki-laki Yahudi yang dikenal dengan nama Bustanah Al-Yahudi. Kemudian laki-laki itu bertanya kepada Nabi, “Wahai Nabi Muhammad, beritahu aku mengenai bintang-bintang yang telah bersujud kepada Nabi Yusuf di dalam mimpinya. Apa saja nama-nama bintang tersebut?”

Kemudian Nabi sejenak terdiam dan tidak menjawab apapun. Lalu malaikat Jibril datang kepada Nabi untuk memberitahukan nama-nama bintang tersebut. Setelah mengetahuinya, Nabi kemudian bertanya kepada orang Yahudi itu, “Apakah kamu mau beriman jika aku memberitahukanmu nama-nama bintang tersebut?” Nabi Muhammad menjawab, “Tentu saja.” Lalu Nabi menyebutkan, “Bintang-bintang itu adalah: Jurban, Thariq Dziyal, Dzul Katfan, Qabis, Tsah, Amudan, Fulaiq, Mushhah, Dharuh Dzul Fara, Dhiya, dan Nur.” Lalu orang Yahudi itu menimpali, “tepat sekali, itulah nama bintang-bintang tersebut.”[5]

Kisah Tugas Kenabian untuk Nabi Yusuf ini dikutip dari sumber terpercaya dan bisa dipertanggung jawabkan kevalidannya. Silahkan Kunjungi Sepatumerah.net untuk mendapatkan pengetahuan sejarah Para Nabi yang mungkin belum anda ketahui secara mendalam.

Referensi Tugas Kenabian Nabi Yusuf

[1] Lihat, Kitab Al-Mu’jam Al-kabir karya Thabarani (83, 20/94). Juga Kitab Musnad Asy- Syamiyin (408). Juga Kitab Ash-Shagir (2/149). Juga Kitab Al-Awsath (2476). Dan Kitab Al-Hilyah karya Abu Nuaim (5/215, 6/96).

[2] HR Bukhari. Bab Kisah Para Nabi. Bagian Firman Allah, “Apakah kamu akan menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub.” (3374). Juga Muslim, Bab Keutamaan Bagian Keutamaan Nabi Yusuf (2378).

[3] HR. Ahmad dalam Kitab Musnadnya (2/332).

[4] HR. Bukhari, Bab Kisah Para Nabi. Bagian: Firman Allah, “Sesungguh, dalam (cerita tentang) Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat sebuah pertanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang bertanya.” (3390). Dan pada Bab Tafsir, Bagian Firman Allah, “Sesungguhnya dalam (cerita tentang) Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat sebuah pertanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang bertanya.” (4688).

[5] Tafsir Ath Thabari(12/151), Tafsir Ibnu Katsir (2/468), Kasyfu Al Atsar Az Zawaid Al-Bazzar (2220), dan Majma’ Az Zawaid (7/39) Namun pada riwayat tersebut terdapat Hakam bin Zahir yang tidak diakui periwayatannya. Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir dikatakan, “riwayat ini hanya berasal dari Hakam bim Zahir Al-Fazari, sedangkan Hakam ini dikategorikan sebagai perawi yang lemah dan periwayatannya tidak diakui oleh para ulama.”

Tinggalkan Balasan