Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Ratu Balqis Mendapat Surat Dari Nabi Sulaiman

4 min read

Ratu Balqis Mendapat Surat Dari Nabi Sulaiman

Nabi Sulaiman Mengirim Surat Kepada Ratu Balqis

Setelah mendengar laporan dari burung Hudhud, Sulaiman segera menuliskan surat kepada Balqis. Isinya adalah mengajak Ratu Balqis beserta rakyatnya untuk taat kepada Allah RasulNya. Ia mendorong kerajaan Balqis untuk tunduk pada kerajaan dan kekuasaannya.

Oleh karena itu dalam surat tersebut Sulaiman mengatakan, “Janganlah Anda berlaku sombong terhadapku.” Yakni, janganlah kamu menolak untuk taat kepadaku dan menjalankan perintahku. “Dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Yakni, menghadaplah dengan penuh ketaatan, tanpa perlawanan atau siasat apapun.

Surat tersebut kemudian dibawa oleh seekor burung yang sangat patuh atas perintah tuannya dan paham betul apa saja yang dipesankan kepadanya. Sejumlah ulama tafsir dan ulama lainnya mengatakan,[9] “Burung yang membawa surat itu adalah burung Hudhud”. Burung itu membawa surat Nabi Sulaiman ke istana Balqis, lalu diberikan kepada Balqis saat ia sedang sendirian. Kemudian burung itu bertengger di salah satu jendela untuk menunggu reaksi Balqis atas isi surat tersebut.

Respon Ratu Balqis Atas Surat Nabi Sulaiman

Ternyata Balqis langsung mengumpulkan para pemimpin, para menteri, dan para pembesar di kerajaannya untuk bermusyawarah. Ratu Balqis berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” Kemudian Ratu Balqis membacakan surat itu mulai dari nama pengirimnya, “Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman.” Barulah ia membacakan isi suratnya. “Kuawali dengan menyebut Nama Allah Yang memiliki sifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah Anda berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

Kemudian Balqis meminta pendapat dari semua orang yang diundangnya tentang isi surat tersebut. la berbicara panjang lebar di hadapan para pembesar kerajaannya itu. Ia menjelaskan apa saja langkah-langkah yang bisa ditempuh dan apa saja konsekuensi yang mungkin bisa saja terjadi.

Para pembesar itu dengan baik mendengarkan dan menyimak apa yang disampaikan oleh ratu mereka. Lalu, Ratu Balqis berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku).” Aku tidak akan memutuskannya sendiri sebelum kalian semua menyetujuinya.” Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang). Kerajaan ini memiliki kekuatan yang besar dan kemampuan untuk berperang, bertempur, dan melawan musuh-musuh manapun. Apabila itu yang kamu inginkan dari kami, maka kami mampu untuk melaksanakannya. Namun meski demikian, keputusan berada di tanganmu. Maka pertimbangkanlah apa yang akan tuan perintahkan.”

Mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk ratu mereka. Di awal, mereka menjelaskan kemampuan apa saja yang mereka miliki. Namun pada akhirnya, mereka tetap mengembalikan keputusan itu di tangan ratu mereka.

Keputusan Ratu Balqis

Ternyata benar apa yang mereka duga, ratu mereka memiliki pendapat yang lebih jitu dan lebih sempurna dari pendapat yang mereka sampaikan. Ratu Balqis seakan sudah mengetahui bahwa pengirim surat tersebut tidak dapat dicegah keinginannya, tidak dapat ditentang, tidak dapat diperdayakan, dan memiliki pasukan yang tidak terkalahkan.

Ratu Balqis berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian yang akan mereka perbuat.”

Ratu Balqis menyampaikan pendapatnya yang sangat tajam. “Apabila raja yang mengirimkan surat ini telah menduduki kerajaan kita, maka akulah orang yang paling bertanggung jawab atas kesengsaraan dan kebinasaan seluruh rakyatku. Karena ia pasti akan melakukannya. Oleh karena itu, sebelum melakukan sesuatu yang akan aku sesali nantinya, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah. Dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.”

Balqis ingin melembutkan hati Nabi Sulaiman dengan hadiah yang dikumpulkannya bersama seluruh keluarga kerajaan itu. Namun Balqis tidak tahu, bahwa Nabi Sulaiman tidak mau menerima hadiah apapun, sedikit ataupun banyak. Karena Balqis dan rakyatnya adalah orang-orang kafir. Nabi Sulaiman bersama bala tentaranya selain mampu dalam bidang finansial, mereka juga mampu membumi hanguskan seluruh kerajaan Balqis. Karena itu, ia tidak menerima kata penolakan atas ajakannya atau hadiah dalam bentuk apapun juga.

Keteguhan Prinsip Nabi Sulaiman

Ketika Sulaiman menerima utusan yang membawa hadiah dari Balqis, ia berkata, “Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Allah telah memberikan kepadaku sesuatu yang lebih baik daripada sesuatu apapun yang Allah berikan kepadamu. Tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.” Nabi Sulaiman menolak mentah-mentah seluruh hadiah tersebut, meskipun hadiah-hadiah itu terdiri dari berbagai macam jenis harta. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan secara mendetail oleh sebagian besar ulama tafsir.

Kemudian Sulaiman berkata kepada utusan Balqis di hadapan banyak orang yang mendengarkannya, “Kembalilah kepada mereka! Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya. Kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Sabaa’) secara terhina. Dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina-hina.”

Sulaiman berkata kepada utusan Baqis, “Pulanglah bersama hadiah yang hendak kamu berikan kepada seorang raja yang telah memiliki harta jauh lebih banyak. Telah aku miliki semua yang kerajaanmu miliki. Namun apa yang aku miliki belum tentu dimiliki oleh kerajaan kalian. Baik dari segi harta, pasukan, peninggalan, dan lain-lainnya. Semua itu jauh lebih berlimpah dari hadiah yang kamu anggap sudah melimpah ini. Bagaimana mungkin kalian merasa bangga dengan hadiah yang kami anggap tidak ada apa-apanya ini. Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya.”

Pesan Nabi Sulaiman Untuk Ratu Balqis

Utusan Ratu Balqis diperintahkan kembali dengan membawa serta berbagai hadiah. Nabi Sulaiman juga berpesan untuk disampaikan kepada ratu dan seluruh rakyatnya, bahwa tidak lama lagi pasukan Sulaiman akan datang ke negeri mereka. Pasukan Nabi Sulaiman tidak mungkin dapat mereka hadang. Tidak mungkin dapat mereka lawan. Dan pasti akan mengeluarkan semua penduduknya dari negeri tersebut. Mereka akan menjadi (tawanan) yang hina-hina. Mereka akan diturunkan derajatnya dan dipermalukan oleh pasukan Sulaiman.

Setelah utusan itu sampai kepada Ratu Balqis dan memberitahukan apa saja yang dipesankan oleh Nabi Sulaiman, maka tidak ada jalan lain lagi bagi Balqis kecuali harus patuh dan taat. Lalu saat itu juga Ratu Balqis beserta rakyatnya bersiap-siap untuk menghadap Sulaiman untuk memberikan rasa taat dan patuh atas perintahnya. Sementara itu, Sulaiman yang mendengar kabar tentang kedatangan Balqis dan rakyatnya, maka beliau memanggil bangsa jin, manusia, dan hewan-hewan yang dikuasainya. Hal ini sesuai keterangan yang dikisahkan di dalam Al-Qur’an.

Kisah Nabi Sulaiman Mengumpulkan Rakyat Dalam Al Qur’an

“Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?” (QS. An-Naml: 38)

“Ifrit dari bangsa jin berkata, “Akulah yang akan membawa istananya kehadapanmu sebelum engkau beranjak berdiri dari tempat dudukmu. Sungguh, aku memiliki kekuatan untuk melakukannya dan dapat dipercaya.” (QS. An-Naml: 39)

“Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah ingkar (terhadap nikmatNya). Barangsiapa memanjatkan syukur, maka sesungguhnya dia telah bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku adalah Dzat yang Maha kaya lagi Maha mulia.” (QS. An-Naml: 40)

“Dia (Sulaiman) berkata, “Ubahlah untuknya singgasananya. Kita akan melihat apakah Balqis masih mengenalinya lagi atau tidak.” (QS. An-Naml: 41)

“Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgasanamu?” Balqis menjawab, “Seakan-akan itulah singgasanaku. Kami telah diberikan pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An-Naml: 42)

“Dan kebiasaannya menyembah selain Allah mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), sesungguhnya dia (Balqis) dahulu termasuk orang-orang kafir.” (Qs. An-Naml: 43)

“Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana. Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Berkatalah Nabi Sulaiman, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zhalim terhadap diriku. Aku menyerahkan diriku bersama Sulaiman kepada Allah yang merajai seluruh alam.” (QS. An-Naml: 44).

Kisah ini dikutip dari sumber terpercaya dan bisa dipertanggung jawabkan kevalidannya. Silahkan Kunjungi Sepatumerah.net untuk mendapatkan pengetahuan sejarah Para Nabi yang mungkin belum anda ketahui secara mendalam.

Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Kisah Nabi Adam

Ulum
7 min read

Keistimewaan Nabi Sulaiman

Ulum
1 min read

Yusuf Dimasukkan Sumur

Ulum
4 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *