Puisi Tentang Senja

Puisi tentang senja – Sudah sangat disadari bahwa hati perindu adalah hati yang paling rapuh. Sebab rindu, jiwa-jiwa akan terombang-ambing oleh keadaan. Sebab rindu, akal pikiran akan kerap melakukan khayalan. Sebab rindu, Performa sukma surut menjadi kering kerontang.

Akan tetapi, rindu adalah kenikmatan. Menghayati rindu adalah kegiatan yang menyenangkan. Benarkah? Simak nasib para perindu di puisi tentang senja dibawah ini. Selamat membaca. Dihayati semaksimal mungkin ya. Heuheuheu.

Puisi Tentang Senja

Puisi Tentang Senja

Pada sekuntum senja
Aku merindukan sebuah tempat
Bersama wanita yang kan kusebut dalam akad
Dengan semangat penuh khusyuk penuh khidmad

Pada setangkai senja
Tersimpan sekuncup memori
Dimana ada peristiwa berucap janji suci
Menemanimu tanpa saling mengingkari

Pada seranting senja
Bergelayutan rasa dalam kata berjuta makna
Membentuk susun maksud tanpa dusta
Untuk dirimu yang datang meskipun lekas melekang
Membuat beku bayang yang buatku terngiang

Karena pada sedahan senja
Terdapat sebongkah pertanda
Bahwa hati kita telah terikat dialam nyata
Untuk mengabulkan harapan sebuah cita

Di akhir sebuah senja
Menyumber seembun waktu
Dimana kita bersyukur karena saling temu
Dalam suasana pilu bersadur syahdu

Senja memang begitu
Ia selalu sama
Mewariskan rindu tanpa aba
Meletupkan desah terhambur merata

Senja yang berparas buram
Telah tertutup oleh mega-mega pekat
Melebamkan kenangan yang tersurat lamat-lamat
Mengentalkan rindu yang tak terlihat

Syair Lembayung Senja

Syair Lembayung Senja

Sesorot bulir matamu yang nanar
Membuatku terbisu hanya sanggup bersandar
Melukis auramu dengan tanpa kau sadar
Meskipun hanya terlukis samar

Ahh… darimana imaji itu datang
Mungkin dari luas langit yang berselimutkan awan
Atau dari lindap bising nada nyanyian dalam tarian
Membuncahkan seberkas cahaya yang sempat hilang
Memancar… Berpendar… Menghampar… Melayang…

Indahnya menyimak senja dengan menggenggam tanganmu erat
Menunggu cahaya orange yang santun mengkilat
Seperti senyummu yang telah terpahat
Hampa, kosong tapi dekat mengikat

Aaah…
Menunggui lembayung senja yang hampir terbenam
Selalu menyisakan semburat rindu yang menggenang
Menitiskan secawan cinta diwajahmu yang menawan
Menggagapkan risauku yang enggan membenam

Memang renta matahari yang akan memupus di ujung sore
Kerap mewejangkan banyak pesan
Ia memfatwakan rasa enggan dari sebuah keharusan
Untuk para penggemar senja yang tak berkesudahan

Bagi perindu lengkung jingga
Senja kerap hadir hanya sekedar
Seperti kisah kasih yang kau bawa
Indahnya hadir cuma sebentar
Namun terkenang lama meski tanpa kabar

Ingin rasanya aku mengulang
Waktu yang sekian lama aku rancang
Untuk menciptakan sepotong pertemuan yang wujudkan tenang
Meski mendetakkan denyut yang sedemikian kencang
Karena rasa gusar yang kian berdebaran

Puisi Tentang Senja : Takdir Rindu

Puisi Tentang Senja: Takdir Rindu

Kekasih…
Tuhan begitu baik mempertemukan kita
Tuhan mengajarkanku banyak hal melalui senja
Meski berupa duka dan luka lara
Yang mewujud kerinduan yang tiada tara
Kulewati senja dengan secangkir laluan masa
ditambah dengan bayangmu yang makin menyala

Kekasih…
Tiada yang lebih mengerti daripada Tuhan
Tentang cintaku yang tersedu berbulan-bulan
Menanak sukaduka dengan hati kelimpungan

Puisi ini kusajikan sebagai tanda kerinduan
Bahwa akan sebetapa percuma arti hidupku tanpa basuhmu
Maka kekasih…
Dirimu adalah sebaik-baik tempat memulangkan rindu
Agar rasa-rasa yang keramat ini menemukan sakral

Dengarlah kekasih…
Bisikku adalah petuah
Yang ku sumbar sebelum kupilih bisu
Yang ku ramu sebelum kupilih sendu

Lihatlah kekasih…
Tatapku makin menyeksama
Walau disisi lain godaan kian menggelora
Kubutakan mata kepala dan semua mata yang ada padaku
Agar hanya dirimu sebagai fokus terindahku

Senja yang berkilauan jingga
Memberikan tenang di ujung pandang
Begitu banyak puja-puji untuknya
Karena dirinya selalu didamba datang

Ingin aku sertakan kata padamu
Jangan biarkan rasaku menyemu
Tinggallah disisihku tanpa mengenal jemu
Temani aku hingga ragaku menemumu
Mewartakan rindu dengan niat lugu

Rindu Pewaris Senja

Rindu Pewaris Senja

Hai rindu…
Jangan datang dulu
Biarkan dia mengkhatamkan masa lalu
Sementara aku memadatkan perasaanku

Hai rindu…
Maaf jika aku menyapamu
Ada keperluan yang ingin kusampaikan padamu
Kini, segeralah kau mampir
Karena aku sudah lelah mengejar bayang pikir
Hingga kakiku terkilir

Hai rindu…
Semenjak luka lara terlahir
Apakah ini berarti kisahku dengannya akan berakhir?
Atau berlanjut tapi tersatir-satir?

Aku menitipkan rindu yang tak bernyawa
Agar tidak menemui matian maya
Tanpa alfa di manapun dan apapun keadaanya
Membiarkan dirimu terus membayangkan daya

Berikan saja ruang untuknya tumbuh
Sebab rindu akan mudah kambuh
Menyergapmu tanpa pernah mengenal jenuh
Meski blingsutan tak mau patuh

Sajak Keterasingan

Sajak Keterasingan

Rasanya baru kemarin kita bertukar rasa
Menciptakan riang penuh canda penuh tawa
Namun…
Kini asing datang begitu saja tanpa terduga
Akankah kita terus seperti ini?
Lantas bagaimana dengan hari-hari yang sudah kita lewati?
Apakah kita akan terus terjebak keterasingan
Saling diam tanpa secuil pesan yang dikirimkan
Tersungkur oleh ketidakmampuan untuk memulai sapaan

Berbagai penasaran yang terpaku di kepala
Apakah kita masih punya waktu?
Untuk mencairkan segala hal yang terlanjur beku?
Apakah masih ada kesempatan?
Untuk meregangkan segala hal yang sudah terbujur kaku?

Bagaimana kabarmu di sana?
Aku sangat rindu dan tidakkah kau merasakan hal yang sama?
Adakah sepintas bayangku yang masuk
Di sela sibukmu yang menumpuk

Disini aku tak bisa berbuat apa-apa
Hanya menanti balas pesanmu yang tak lekas kuterima
Kubiarkan rinduku terkoyak-koyak
Kala kau meminta sejenak waktu dan seikat jarak

Kita memang sedang berjeda
Namun doaku takkan mereda
Agar dimanapun kau berada
Dengan siapapun kau bersama
Hanya aku yang yang ada dalam sukma

Mengapa mendusta ribuan rasa
Mengapa membisu jutaan bahasa?
Mungkinkah bulan merindukan kunang?
Dapatkah kunang mencapai rembulan?

Seringkali saat aku menyimak senja
Aku merasa itu dirimu
Sekejap saja tak berlangsung lama
Lalu pergi tanpa pamit begitu saja
Berganti dengan gulita malam

Senja di suatu sore yang tak kusuka
Membentuk nikmat yang menyayat
Juga lelap penambah sekarat
Sebab di sebuah senja
Tak pernah menjanjikan kapan ia kan kembali ada

Tabiat Rindu

Tabiat Rindu

Rindu ini terlalu egois
Melepas waktu dengan cara yang sadis
Seakan dipaksa mencekami sampai habis
Mendekapi hangat namun menyisakan tangis

Rindu ini congkak
Tak patuh agar segera beranjak
Kubiarkan meski dadaku sesak
Oleh rasa yang tak kunjung mengepak

Rindu ini…
Menahan untuk membina keluh
Pergi berlalu tanpa mau untuk mengasuh
Padahal, dalam benak mihrab kasihmu yang jauh
Rindu adalah penyebut namamu dalam tasbih kumuh

Cintamu tak sanggup kujamah
Meski berjuta cara telah kumamah
Ingin rasanya kubawa rasa ini menujumu
Agar dirimu luluh tak temukan ragu
Bagiku dirimu adalah laku yang harus aku tuju

Pernahkah dirimu merasakan lenyap dari rindu
Saat auramu di sisi pusara?
Demikiankah?
Namun bagiku tidak
Perasaan rindu kian menjadi
Bahkan semakin maha

Ijinkan aku menuangkan rindu
Di cangkir kopi tempatmu mengadu
Bersama resah yang tak menentu
Berampas pahit berbuku-buku
Entah berapa jilid kerapuhanku
Dalam mencintamu berbalutkan kelu

Ijinkan aku menikmati setangkup rasa
Di piring kecil berisikan sesajak asa
Bertabur cinta tentang asmara
Berkucur darah merah bekas luka
Bertangiskan lembar-lembar kata
Rindu telah menumpahkan airmata hingga tak lagi tersisa

Tak bisakah rindu ini tuntas saja
Berpamitan di perbatasan langit senja
Agar duka sakit ini sedikit mereda
Dan sungkawa tak lagi mengutuk disetiap doa

Tak bisakah rindu ini berakhir saja
Melebur bersama gelap malam seutuhnya
Melenyap dan tak lagi bersisa
Hingga sirnalah seluruh kegamangan rasa

Tak bisakah rindu ini habis saja
Karena sungguh aku tersiksa
Dalam kesunyian tanpa bala
Sementara ragamu entah kemana

Mengenang sendu biru disetiap rintik hujan selepas senja
Membuatku tertusuk perihnya cibiran derita
Berkali ku beranjak, berkali pula aku terhentak
Ingin sekali aku bersimpuh diperaduan, hingga kering tanpa airmata

Puisi Tentang Senja : Perseteruan Rindu

Puisi Tentang Senja : Perseteruan Rindu

Rusukku…
Rindu ini persis seperti kemarin
Membuat detak berdesir pelan
Merangkai nafas dalam doa

Rusukku…
Rindu ini sama seperti kemarin
Untaian kata berderai rasa
Menyulamkan rajut putuskan cerita

Rindu adalah senja yang setia menemui malam
Selalu mempunyai tempat untuk menyapa rembulan
Rindu itu daun yang luruh ke bumi
Selalu tahu kapan harus turun dan kapan harus berhenti
Rindu adalah mimpi yang datang di malam hari
Selalu memiliki cara untuk membuatmu tersenyum meski tak sadarkan diri

Rindu selalu mengerti kemana ia harus kembali
Sejauh apapun menghindar pergi
Rindu selalu tahu jalan yang harus disusuri
Rindu tidak cukup disampaikan oleh susun-susun kata
Rindu tidak cukup dititipkan lewat teduh mata
Rindu tidak cukup diberikan oleh denyut dalam paru raga

Laksana senja dirimu datang
Laksana senja dirimu pergi
Laksana senja dirimu pancarkan hangat
Laksana senja dirimu hanguskan segala kenangan
Laksana senja yang tak mau diajak bercengkrama
Laksana senja enggan didekap
Laksana senja mengaluni cakrawala
Laksana senja menetas dari fajar pagi
Laksana senja indah dalam diam
Laksana senja menitikan asa
Laksana senja akan usai di ujung hari
Laksana senja elok berparas jingga
Sementara aku
Pecandu rindu yang tak kunjung berujung

Sekian, apakah puisi tentang senja diatas sama dengan yang sedang kau rasakan saat ini? Kalau iya, berarti jiwamu sedang dilanda candu. Lantas apa obatnya? Temukan penawar rindu disini.

3 tanggapan pada “Puisi Tentang Senja”

  1. Pingback: Puisi Cinta dalam Diam Seorang Perindu Senja - Sepatu Merah

Tinggalkan Balasan