Profesionalisme Nazhir

Cover Profesionalisme Nazhir

Profesionalisme nazhir – Menyoal tentang nazhir berarti menyinggung tentang aspek wakaf. Wakaf adalah item syariat yang diformulasikan sebagai wadah untuk menampung sebuah aset. Aset yang sudah tertampung ditujukan untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan demi meningkatkan kualitas perekonomian umat masa depan.

Dalam literasi wakaf, nazhir (Pihak Pengelola Wakaf) merupakan salah satu sendi pokok yang bergerak dalam bidang pengelolaan dan pemberdayaan aset. Sebenarnya aset wakaf yang terdapat di Bumi Pertiwi Indonesia ini sangatlah melimpah ruah. Cuma, ada sedikit fokus permasalahan yang terletak pada sistem managemen nazhir. Dimana seorang nazhir agak kurang memiliki skill dalam mengelola, memanajemen dan mengatur harta wakaf.

Disamping itu, kebanyakan nazhir masih berpedoman pada cara berpikir tradisional. Sehingga harta wakaf banyak diberdayakan hanya secara konsumtif dan kurang produktif. Dari sini, kiranya perlu diwujudkannya sistem ‘الأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ’. Yakni melakukan pembaharuan terhadap sumber daya manusia pada pola pikir nazhir. Perlu adanya sosialisasi yang komprehensif dan terbuka sehingga para nazhir dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan tujuan primeri akad wakaf tersebut.

Integritas Seorang Nazhir

Syarat Seorang Nazhir

  1. Integritas Moral
    Seorang nazhir harus memiliki kecerdasan, baik kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual. Nazhir juga musti paham tentang hukum perwakafan, baik dalam segi tinjauan syariah maupun perundang-undangan.
  2. Integritas Manajemen
    Nazhir harus memiliki gairah kerja yang keras, misioner dan mampu melihat peluang masa depan atau rencana jangka panjang. Serta mampu merealisasikan perencanaannya.
  3. Integritas Komitmen dan Pengalaman
    Pihak nazhir kudu mempunyai pondasi komitmen yang kuat dan pengalaman yang matang. Kedua hal tersebut akan sangat berguna untuk melihat sebuah peluang mendayakan aset wakaf.
  4. Integritas Karakteristik
    Nazhir harus berkepribadian adil. Sebab kebijakan dalam mengelola aset termasuk dalam lingkup kerangka otoritas, dimana otoritas hanya layak diembankan kepada orang yang berkarakter adil.

Poin-poin yang dipertimbangkan dalam Rekrutmen Nazhir

Poin-poin yang Dipertimbangkan dalam Rekrutmen Nazhir

Seseorang mampu mencapai level profesionalisme nazhir ketika dalam dirinya telah terkompliti poin-poin di bawah ini,

Karakter : Sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, kepribadian, akhlak pekerti, dan tabiat.
Kapasitas : Memiliki daya tampung, daya serap.
Kapabilitas : Memiliki kemampuan, ketrampilan atau skill.
Kredibilitas : Kekuatan untuk menumbuhkan kepercayaan.
kreatif : Proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan baru. Dari hasil sudut pandang keilmuan dan pemikiran.
kompatibel : Mampu bergerak dan bekerja dengan keserasian.
komitmen : Suatu keadaan dimana seseorang mempertahankan prinsipnya.

Arti Penting Profesionalisme Nazhir

Arti Penting Profesionalisme Nazhir

Sudah barang tentu pengembangan aset wakaf diharapkan merangkak ke sisi produktif. Dalam hal ini, pihak yang paling berperan terhadap berhasil tidaknya pengembangan tersebut adalah نَاظِرُ الْوَقْفِ. Yaitu pihak yang diserahi tugas oleh وَاقِفْ (pewakaf harta) untuk mengelola aset wakaf.

Meskipun dalam kitab-kitab fikih ulama tidak memasukkan nazhir sebagai rukun wakaf, Namun kontribusi nazhir sangatlah berpengaruh dalam pengelolaan harta wakaf. Apalagi jika melihat tujuan wakaf merealisasikan kepentingan umat. Maka keterlibatan nazhir merupakan komposisi yang begitu diperlukan.

Dengan demikian, keberadaan nazhir yang memiliki skill profesional sangatlah penting. Adanya seorang nazhir yang profesional menjadikan harta wakaf tidak semata-mata dikelola saja. Lebih dari itu, aset wakaf akan mampu berkembang. Sehingga menjadi aset yang produktif dan berarti bagi kelangsungan hidup umat dan masyarakat setempat.

Nazhir menempati posisi yang sedemikian sentral dan vital dalam pengembangan harta wakaf, karena disamping sebagai leader, ia juga berperan sebagai manajer. Selaku leader, ia bertanggung jawab penuh sebagai seorang komandan dalam proses pengelolaan wakaf. Sedang selaku manajer, seorang nazhir harus mampu merancang program dan planing kedepan untuk pengembangan aset wakaf.

Disamping berkeharusan menjaga, nazhir juga berkewajiban mengembangkan dan melestarikan manfaat dari barang yang diwakafkan. Sehingga pemanfaatan barang tersebut bisa tepat sesuai sasaran bidiknya. Begitulah mekanisme sikap untuk meraih strata profesionalisme nazhir.

Tujuan Diadakannya Sistem Manajemen SDM

Tujuan diadakannya Sisem Manajemen SDM

  1. Mengajak nazhir agar mampu memahami metodologi pengelolaan wakaf.
  2. Menciptakan pola pikir yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan maupun teknis manajerial.
  3. Membentuk pribadi nazhir sesuai posisinya. Yaitu pemegang amanah umat Islam yang mempercayakan harta wakafnya untuk dikelola secara baik. Dan bisa dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.
  4. Membekali nazhir dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan agar mempunyai tanggungjawab penuh terhadap harta wakaf.

Pembinaan yang Berkaitan dengan Profesionalisme Nazhir

Pembinaan yang Berkaitan dengan Profesionalisme Nazhir

Untuk memajukan SDM nazhir diperlukan upaya pembinaan agar mereka dapat melaksanakan tugas-tugas kenazhirannya secara produktif dan berkualitas. Upaya pembinaan tersebut melalui :

  • Pendidikan Formal
    Yaitu melalui forum-forum umum, kejuruan ataupun perguruan tinggi. Sudah banyak sekali forum-forum resmi yang membuka dan mengarahkan SDM pada manajemen pengelolaan wakaf. Agar terciptanya SDM kenazhiran yang profesional, pemerintah dan lembaga pendidikan terkait sebaiknya lekas memulai pembenahan sistem pendidikan yang diterapkan.
  • Pendidikan Non Formal
    Yaitu dengan cara menyelenggarakan kursus atau pelatihan SDM kenazhiran. Baik yang berhubungan dengan manajerial organisasi, atau peningkatan keterampilan. Seperti tehnik pengembangan peternakan, tehnik perbankan maupun marketing.
  • Pembinaan fisik
    Yaitu memperhatikan kesehatan nazhir. seorang nazhir harus memiliki kebugaran fisik. Karena dengan kondisi tersebut, ia akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
  • Pembinaan Mental
    Yaitu pembinaan spirit kerja agar nazhir semangat dalam melaksanakan tugasnya. Penting juga diadakan pembinaan budi pekerti melalui forum ceramah-ceramah agama.

Prinsip Etika Pihak Pengelola wakaf

Prinsip Etika Pihak Pengelola Wakaf

Berikut adalah beberapa prinsip yang seyogyanya tertanam di hati para pengelola wakaf agar mampu mewujudkan iklim maslahat dalam masyarakat,

  • Prinsip Otonomi
    Prinsip otonomi menjadikan seorang nazhir mampu mengambil sebuah keputusan dengan tepat dan baik, serta mampu mempertanggung jawabkannya.
  • Prinsip Kejujuran
    Kejujuran merupakan value yang paling dasar untuk mendongkrak keberhasilan seseorang. Tanpa kejujuran, hal apapun tidak akan bertahan lama. Karena kejujuran adalah kunci pokok dalam kesuksesan. Prinsip ini harus diterapkan dalam segala elemen kegiatan yang dikerjakan oleh nazhir wakaf.
  • Prinsip Keadilan
    Dalam prinsip ini berarti seorang nazhir yang melakukan sebuah tindakan memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama. Sehingga semua pihak yang terkait dalam sistem kerja harus memberikan kontribusi yang sepadan untuk mencapai kesuksesan. Menerapkan prinsip keadilan berarti semua pihak musti mempunyai akses positif sesuai dengan kemampuan dan peran yang dimiliki untuk meraih hasil yang dicita-citakan.
  • Prinsip Loyalitas
    Loyalitas adalah salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh seorang nazhir. Loyalitas dalam pekerjaan biasanya dapat dilihat dari keseriusan seseorang dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan visi dan misi yang ada. Ketika prinsip ini sudah di deklarasikan, berarti tidak boleh mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.
  • Prinsip Integritas Moral
    Nazhir harus mempunyai integritas moral yang terpuji. Dengan begitu, nazhir akan lebih mudah dipercaya oleh pemberi aset wakaf. Menerapkan prinsip ini, berarti nazhir telah bersedia menjaga nama baik badan penampung aset wakaf.

Etika yang Harus Dimiliki Nazhir

Etika yang Harus dimiliki Nazhir

Menjadi pengelola wakaf terbilang berat, karena harus memenuhi beberapa pencapaian. Disinilah eksistensi profesionalisme nazhir dipertaruhkan. Berikut hal-hal tersebut,

Kontrol diri
Rasa tanggung jawab terhadap sosial (social responsibility)
Pertahanan jatidiri dan prinsip
Bekerja dengan penuh ketulusan
Menerapkan konsep perbaikan yang berkelanjutan
Menjauhi sifat tercela 5K (Kattabelletje, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
Mampu menyatakan kebenaran atau kesalahan
Menumbuhkan sikap saling percaya sesama rekan kerja
Konsekuen dan konsisten serta mentaati peraturan yang sudah dimufakati
Menumbuhkan sikap husnudhon kepada pihak pemberi wakaf

Pembumian Karakter Pada Jatidiri Nazhir

Pembumian Karakter Pada Jatidiri Nazhir

  • Bekerja Keras dan Tekun
    Terkesan simpel namun pelaksanaannya sangat sukar. Memerlukan kerja keras dan istiqomah sehingga tidak mudah menyerah ketika mendapatkan tantangan dalam menjalankan tugas.
  • Berani Menantang Diri Sendiri
    Nazhir harus senantiasa siap siaga menghadapi segala wujud tantangan. Baik dalam dirinya sendiri ataupun di lingkungan sekitarnya.
  • Berani Mengambil Resiko
    Seorang nazhir harus berani mengambil resiko. Sehiggga memiliki gairah untuk mendapatkan hal-hal baru di dalam hidupnya. Nazhir semestinya mampu mengambil keputusan sekaligus mempertimbangkan resiko dari pilihannya.
  • Memiliki Rasa Percaya Diri
    Pengelola wakaf harus memiliki tingkat percaya diri yang tinggi. Karena percaya diri mampu meningkatkan intuisi yang berpengaruh dalam kebijakan saat mengambil keputusan. Percaya pada kemampuan diri sendiri mampu menghilangkan rasa ketidakpastian yang seringkali muncul menjadi sebuah ketakutan.
  • Memiliki Kecerdasan Emosi
    Seorang pengelola wakaf akan menemui berbagai sifat manusia. Baik sebagai partner dalam menjalankan tugas maupun pemberi wakaf nantinya. Oleh karena itu, seorang nazhir dituntut memiliki manajemen emosi yang baik dan selalu berkepala dingin. Karena dengan sikap yang semacam itu, reputasi tugasnya tidak akan mendapatkan citra buruk dimasyarakat.
  • Mampu Mengelola SDM
    Dengan keterampilan manajerial yang baik dalam pengelolaan SDM, perkembangan aset wakaf akan berjalan secara sistematis, terorganisir, dan rapi. Sehingga tugas akan berjalan lebih terarah dan sesuai dengan harapan.
  • Memiliki Strategi Manajemen
    Seorang nazhir seharusnya bisa menuangkan impiannya kedalam ide-ide yang dapat diimplementasikan melalui perencanaan strategi manajemen yang efektif dan efisien. Dengan strategi manajemen yang terkontrol, seorang nazhir dapat dengan mudah mengelola manajemen perkembangan aset wakaf yang menjadi tugasnya.
  • Memiliki Jiwa Motivator
    Pengelola wakaf yang tangkas harus bisa menginspirasi dan memberikan support pada partnernya. Bersedia terlibat dan bertanggung jawab penuh atas pemecahan masalah, serta berani mengambil resiko.
  • Mampu Mengelola Waktu dengan Baik
    Pengelola wakaf tentu memiliki berbagai macam tugas dan kesibukan yang bertumpukan. Untuk itu, seorang nazhir harus bisa mengelola waktu dengan baik. Mulai dari mengerjakan tugas berdasarkan prioritas, ataupun disiplin dengan jadwal yang sudah ditetapkan.
  • Inovatif
    Sebuah inovasi akan menegaskan bahwa perkembangan aset wakaf tidak akan berjalan pasif dan stagnan. Dengan memiliki kreativitas dalam membuat inovasi terhadap aset wakaf, maka seorang pengelola wakaf akan membuat produknya menjadi semakin bermanfaat.

Ciri-Ciri Mencapai Profesionalisme Nazhir

Ciri-ciri Mencapai Profesionalisme Nazhir

  1. Profesionalisme adalah pengabdian (dedikasi) dan keterikatan. Sehingga dalam setiap bidang pemberdayaan wakaf, nazhir yang sudah profesional memadukan antara hidup dan pekerjaannya melalui pengabdian dan keterikatan pribadinya.
  2. Nazhir mencapai status profesionalnya melalui prestasi, bukan melalui favoritisme atau faktor lain yang tidak berhubungan dengan tugas yang diemban. Walaupun belum ada standar obyektif yang disepakati untuk menilai prestasi manajerialnya.
  3. Nazhir mendasarkan keputusannya pada sebuah prinsip-prinsip umum, sehingga kemajemukan kasus dan program latihan manajemen menandakan bahwa prinsip-prinsip manajemen dapat digunakan sebagai patokan khusus.
  4. Nazhir tunduk pada kode etik yang sudah disepakati bersama.

Epilog Artikel Profesionalisme Nazhir

Epilog Artikel

Keterampilan manajerial adalah sistem operasi keterampilan untuk mengatur, mengkoordinir dan menggerakkan segala gairah positif menuju arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Kemampuan manajerial tidak begitu saja muncul. Kemampuan ini terbentuk dari suatu proses panjang yang tercetak secara berangsur-angsur melalui proses pengamatan dan pembelajaran.

Sekian. Semoga artikel ini dapat memberikan andil dalam rangka menggairahkan semangat masyarakat menengah dan millenials untuk senantiasa membiasakan berwakaf. Hal ini sesuai dengan harapan dari Bapak Muhammadiyyah Amin dalam Gelaran Temu Media terkait ekspos Festival Literasi Zakat dan Wakaf Tahun 2019 di Kantor Kemenag Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Tinggalkan Balasan