Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Kisah Nabi Adam

7 min read

Kisah Nabi Adam

Kisah Nabi Adam – Nabi Adam adalah bapak sekalian umat manusia. Bagaimanakah riwayat hidup beliau? Disini saya akan menguraikannya dengan semaksimal mungkin sebisa saya. Riwayat berikut ini akan saya tunjang dengan beberapa referensi yang bisa dipertanggung jawabkan keaktualannya. Baca sampai tuntas agar wawasan semakin luas. Selamat membaca.

Nama Adam disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 25 kali. Yaitu: Pada surat Al-Baqarah: 31, 33, 34, 35, 37. Surat Ali Imran: 33, 59. Surat Al-Maa’idah: 27. Surat Al-A’raf: 1, 19, 26, 27, 31, 35, 172. Surat Al-Israa’: 61, 70. Surat Al-Kahfi: 50. Surat Maryam: 58. Surat Thaha: 115, 116, 117, 120, 121. Dan surat Yasin: 60.

Kisah Nabi Adam disebutkan dengan nama beserta sifatnya pada beberapa surat, yaitu: Al-Baqarah Al-A’raf, Al-Isra Al-Kahfi Thaha. Sedangkan pada dua surat lainnya hanya disebutkan sifatnya saja. Yaitu: Pada surat Al-Hijr Dan surat Shaad. Meskipun kisah-kisah Adam diulang beberapa kali di dalam Al-Qur’an dengan gaya bahasa yang berbeda, namun tidak ada sedikitpun kontradiksi di antara kisah-kisah tersebut.

Riwayat-riwayat tentang Penciptaan Nabi Adam

Imam Ahmad meriwayatkan[1], dari Yahya dan Muhammad bin Ja’far, dari Auf, dari Qasamah bin Zuhair, dari Abu Musa, dari Nabi. Beliau Nabi Muhammad pernah bersabda, “Nabi Adam diciptakan oleh Allah dari segenggam tanah dari segala penjuru bumi yang diambilkan oleh malaikat.” Maka keturunan Adam pun masing-masing terlahir sesuai dengan jenis tanah tersebut. Di antara mereka ada yang berkulit putih, merah, hitam, atau campuran (antara warna-warna itu). Di antara mereka ada yang buruk dan ada yang baik. Di antara mereka juga ada yang lembut, ada yang keras, dan ada yang campuran (antara keduanya).”

As-Suddi meriwayatkan, dari Abu Malik dan Abu Saleh, keduanya dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud dan dari sejumlah sahabat Rasulullah lainnya, mereka menuturkan, “Maka Allah mengutus Malaikat Jibril untuk pergi ke bumi dan mengambil segenggam tanah. Ketika malaikat Jibril tiba, bumi berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari dirimu yang ingin mengambil sesuatu dari wajahku atau membuat wajahku menjadi cacat.” Maka malaikat Jibril pun kembali dan tidak jadi mengambilnya, lalu ia mengadu kepada Allah, “Ya Tuhanku, bumi ber-isti’adzah (mengucapkan kata perlindungan) maka akupun melindunginya.”

Kemudian Allah mengutus Malaikat Mikail, dan bumi pun kembali ber-istiadzhah. Hingga Malaikat Mikail memutuskan untuk melindunginya dan kembali kepada Allah seperti dilakukan oleh Malaikat Jibril. Kemudian Allah mengutus malaikat maut, dan lagi-lagi bumi ber-isti’adzah. Namun malaikat maut tidak gentar dan berkata, “Aku pun berlindung kepada Allah apabila aku harus kembali tanpa melaksanakan perintah-Nya.” Maka malaikat maut pun mengambil tanah itu dari muka bumi dan menggabungkannya, sebab ia tidak hanya mengambil tanah itu dari satu tempat saja. Ia mengambilnya dari tanah yang putih, merah, dan juga hitam. Karena itulah keturunan Adam berbeda-beda warna kulitnya.

Kemudian tanah itu dibawa oleh malaikat maut ke atas langit, lalu ia membasahinya hingga tanah itu menjadi tanah lazib (liat), dan tanah lazib itu adalah tanah yang merekat satu sama lain.

Selanjutnya Allah berkata kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. “Ketika Aku telah menyempurnakannya dan telah kutiupkan roh ciptaanKu kepadanya, maka tunduklah kalian dengan bersujud kepadanya.(Shaad: 71-72).

Para Malaikat dan Iblis Terkejut

Kemudian Allah menciptakan Adam langsung melalui TanganNya agar iblis tidak menyombongkan diri kepada Adam. Hingga akhirnya terbentuklah seorang manusia. Namun ketika itu Adam masih berupa jasad dari tanah selama 40 tahun lamanya. Pada satu Jumat para malaikat berlalu dan melihat Adam dari dekat. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat saat itu.

Namun diantara mereka yang paling terkejut adalah iblis. Karena kedengkiannya, ia beberapa kali mendatangi jasad Adam untuk memukulnya hingga jasad itu mengeluarkan suara seperti suara tembikar dari tanah kering. Fase inilah yang dimaksud dengan firman Allah, “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (Ar-Rahman: 14).

Iblis terus saja mempermainkan jasad yang belum bergerak itu. Ia masuk melalui mulut Adam dan keluar dari duburnya. Ia berkata, “Apa gunanya kamu diciptakan?” Lalu iblis berkata kepada para malaikat, “Janganlah kalian merasa takut dengan jasad ini. Sesungguhnya Tuhan kalian tertutup, sedangkan jasad ini berlubang-lubang. Kalau saja aku boleh menguasainya maka ia pasti akan binasa.

Ketika tiba waktunya Allah meniupkan roh ke dalam raganya, Allah berkata kepada para malaikat, “Apabila aku sudah meniupkan roh ciptaanKu kepadanya, maka bersujudlah kalian untuk menghormatinya”. Maka ketika roh itu telah ditiupkan dan masuk melalui kepala Adam, lalu ia bersin. Maka para malaikat berkata kepadanya, “Ucapkanlah alhamdulillah” Adam pun segera mengucapkan, “Alhamdulillah”. Lalu Allah menjawabnya, “Tuhanmu merahmatimu”.

Ketika roh itu masuk kedalam matanya maka terlihat olehnya buah-buahan yang ada di surga. Lalu ketika roh itu masuk ke dalam perutnya ia langsung merasa lapar, maka ia pun berusaha melompat untuk menggapai buah-buahan surga itu. Padahal rohnya belum sampai ke kakinya. Fase inilah yang dimaksud pada dengan firman Allah , “Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa.” (Al-Anbiyaa’: 37).

Kisah Nabi Adam Saat Ditiupkan Roh ke dalam Jasadnya

Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari Hasan bin Sufyan, dari Hudbah bin Khalid, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas bin Malik. Ia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Ketika roh ditiupkan ke dalam jasad Adam dan telah mencapai kepalanya lalu ia bersin. Lalu Nabi Adam mengucapkan “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin“. Allah menjawab, “Allah selalu merahmatimu.”[2]

Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar juga meriwayatkan, dari Yahya bin Muhammad bin As-Sakan, dari Habban bin Hilal, dari Mubarak bin Fadhalah, dari Ubaidillah, dari Habib, dari Hafsh (yakni Ibnu Ashim bin Ubaidillah bin Umar bin Khaththab), dari Abu Hurairah secara marfu’ ia berkata, Setelah Allah menciptakan Adam, lalu ia bersin seraya mengucapkan, “Alhamdulilah (Segala puji bagi Allah)” Lalu Tuhannya menjawab, “Tuhanmu selalu merahmatimu wahai Adam”.[3]

Sebenarnya sanad hadits ini tidak bermasalah, namun tidak ada imam hadits yang meriwayatkannya.

Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan, ketika para malaikat diperintahkan untuk bersujud, malaikat yang paling pertama bersujud adalah Malaikat Israfil. Kemudian Allah mengganjarnya dengan menuliskan Al-Qur’an di dahinya. (HR. Ibnu Asakir)

Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (7/398)

Keistimewaan Nabi Adam

Ada empat keistimewaan yang diberikan kepada Nabi Adam yaitu:

  1. Diciptakan langsung melalui Tangan Allah
  2. Rohnya ditiupkan langsung oleh Allah
  3. Para malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya
  4. Diajari langsung oleh Allah tentang nama-nama segala sesuatu

Karena itu, ketika Nabi Musa bertemu dengan Nabi Adam di malaul a’la. Nabi Musa AS mengatakan, “Dirimu adalah Nabi Adam, bapak dari seluruh manusia. Yang telah diciptakan langsung oleh Allah melalui TanganNya. Yang telah ditiupkan kepadamu roh ciptaanNya. Yang diberikan penghormatan oleh para malaikat dengan bersujud kepadamu. Dan yang diajarkan nama-nama segala sesuatu.”

Tempat Pendaratan Nabi Adam

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dari Abu Zur’ah, dari Utsman bin Abi Syaibah, dari Jarir, dari Atha’, dari Said, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi Adam mendarat di suatu tempat yang disebut “Dahna” yang terletak antara Kota Makkah dan Thaif.” Sedang riwayat dari Hasan menyebutkan, “Nabi Adam mendarat di wilayah India, lalu Hawa di Jeddah, dan iblis di Dastimaisan, beberapa mil dari Kota Basrah, sedangkan ular di Asfahan.” Ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Adapun As-Suddi mengatakan, “Nabi Adam mendarat di wilayah India, ia diturunkan bersama Hajar Aswad dan segenggam daun dari surga, lalu daun itu ditebarkan di India hingga tumbuh pepohonan yang tercium aroma harum di sana.” Dan riwayat dari Ibnu Umar menyebutkan, bahwa Nabi Adam mendarat di Bukit Shafa, sedang Hawa mendarat di Bukit Marwah. Atsar ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Hatim.

Kisah Nabi Adam dan Jumlah Putranya

Imam Abu Ja’far bin Jarir dalam kitab tarikhnya yang diriwayatkan dari beberapa perawi menyebutkan, bahwa Hawa dengan Adam melahirkan 40 anak dari 20 kelahiran. Atsar ini juga disebutkan oleh Ibnu Ishaq dengan sanad yang sama. Wallahu a’lam.

Lalu beberapa ulama juga ada yang menyebutkan, bahwa Hawa selama hidupnya merasakan 120 kelahiran, pada setiap kelahirannya memiliki dua anak kembar, satu orang putra dan satu orang putri, anak pertama mereka adalah Qabil dan Iqlima, sedangkan anak terakhir adalah Abdul Mugits dan Ammatul Mugits.

Kemudian dari mulai anak-anak Adam itulah manusia menyebar ke seluruh penjuru bumi, semakin tumbuh besar dan semakin banyak Sebagaimana firman Allah, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan” (Al Hujurat: 13).

Juga firman Allah, “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya, dan dari keduanyalah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” Dan seterusnya hingga akhir ayat”. (An-Nisaa’: 1).

Bahkan, beberapa sejarawan menyebutkan, bahwa sebelum meninggal dunia, Adam merasakan hidup bersama anak, cucu, cicit, dan seterusnya hingga berjumlah 40.000 orang. Wallahu a’lam.

Wafatnya Nabi Adam

Adam meninggal dunia tepatnya pada hari Jumat. Pada waktu itu, para malaikat datang bertakziyah dengan membawa kain kafan dan wewangian dari surga. “Pada saat Nabi Adam Meninggal, terjadi gerhana matahari dan gerhana rembulan selama tujuh hari berturut-turut”, jelas Ibnu Ishaq.

Abdullah, Putra Imam Ahmad meriwayatkan, dari Hudbah bin Khalid, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid, dari Hasan, dari Utai (yakni Ibnu Dhamrah As-Sa’di). Beliau bercerita tentang peristiwa sewaktu di kota Madinah, ” Waktu itu aku melihat seorang Syaikh yang sedang berbicara. Lalu aku bertanya kepada orang-orang di sekitar tentang dirinya. Mereka mengatakan bahwa itu adalah Ubay bin Kaab. Lalu aku mendengar ia berkata, Sesungguhnya sesaat sebelum Adam menemui ajalnya ia berkata kepada anak-anaknya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku ingin sekali memakan buah-buahan dari surga.”[4] Kemudian anak-anak-nya pun segera pergi mencarinya”.

Dalam perjalanan itu mereka bertemu dengan para malaikat yang tengah membawa kain kafan dan wewangian untuk membungkus jasad Nabi Adam. Para malaikat pun menanyai mereka, “Wahai putra-putra Adam, kalian hendak kemana dan apa yang kalian cari?” mereka menjawab, “Ayah kami sedang sakit dan ia ingin sekali memakan buah-buahan dari surga.” Lalu para malaikat berkata, “Kembalilah kalian karena permintaan ayah kalian akan terpenuhi”.

Ketika para malaikat itu datang, Hawa langsung mengenali mereka dan berusaha sembunyi di belakang tubuh Adam. Lalu Adam berkata, “Lepaskanlah diriku, sesungguhnya mereka datang untukku, maka berikanlah waktu sebentar untuk kami bertemu.” Kemudian para malaikat itu pun mencabut nyawa Adam.

Setelah itu mereka memandikannya, menghiasinya (dengan wewangian), mengkafani, juga menggali kuburan dan menyediakan liang lahat untuk Nabi Adam. Setelah itu mereka menshalati, lalu memasukkan tubuh Nabi Adam ke dalam kubur dan meletakkannya disana. Kemudian mereka berkata kepada anak- anak Adam, “Wahai bani Adam, inilah sunnah kalian (yakni cara-cara menguburkan)”.

Isnad dari riwayat yang disandarkan kepada Ubay bin Kaab ini shahih.

Ibnu Asakir meriwayatkan, melalui Syaiban bin Farrukh, dari Muhammad bin Ziad, dari Maimun bin Mihran, dari Ibnu Abbas. Beliau mengatakan, Rasulullah bersabda, “Para malaikat bertakbir untuk Nabi Adam sebanyak empat kali (yakni shalat jenazah). Abu Bakar bertakbir untuk (jenazah) Dewi Fatimah juga sebanyak empat kali. Umar bertakbir untuk (Jenazah) Abu Bakar juga sebanyak empat kali. Dan Shuhaib bertakbir untuk (Jenazah) Umar juga sebanyak empat kali.

Makam Nabi Adam

Para ulama berbeda-beda dalam meriwayatkan tempat Nabi Adam dikuburkan. Riwayat yang paling masyhur adalah ia dikebumikan di sebuah gunung tempat pertama kali ia mendarat setelah diturunkan dari surga. Yakni di wilayah India. Riwayat masyhur lainnya adalah di Gunung Abu Qubais, Makkah.

Diriwayatkan bahwa ketika pada masa Nabi Nuh terjadi banjir besar, Ia membawa jasad Nabi Adam dan Hawa didalam sebuah peti. Lalu ia menguburkan mereka di Baitul Maqdis. Ini diriwayatkan oleh lbnu Jarir.

Lalu diriwayatkan dari Ibnu Asakir, dari beberapa perawi. Bahwa kepala Nabi Adam berada di Masjid Ibrahim, sedangkan kedua kakinya berada di Shakhrah, di Baitul Maqdis.[5]

Adapun wafatnya Hawa adalah setelah berselang satu tahun dari suaminya.

Usia Adam dan Masa Tinggalnya di Bumi

Kemudian para ulama juga berbeda-beda dalam meriwayatkan jumlah usia Nabi Adam. Menurut riwayat Ibnu Abbas dan Abu Hurairah secara marfu’, bahwa usia Adam yang termaktub dalam lauhul mahfuz adalah seribu tahun.

Riwayat ini tidak dapat dinafikan dengan keterangan yang ada diKitab Taurat yang menyebutkan bahwa Nabi Adam hidup selama 930 tahun. Karena keterangan itu terbantahkan dengan kebenaran yang berada di tangan kaum muslimin, dan kebenaran itu terjaga dengan baik oleh mereka.

Namun begitu, seandainya keterangan mereka memang benar adanya dan terjaga dari tangan-tangan jahil yang mengubah Kitab suci mereka sendiri, maka bisa saja keterangan itu disandingkan dengan keterangan dari hadits Nabi. Yaknı, keterangan mereka yang menyebutkan bahwa Nabi Adam hidup selama 930 tahun adalah perhitungan menurut berputarnya matahari (Tahun syamsiyah. Sekarang dikenal sebagai tahun Masehi). Dan bila dihitung menurut berputarnya bulan (Tahun qamariyah. Sekarang dikenal sebagai tahun Hijriah), maka menjadi 957 tahun.

Itu adalah masa yang dihabiskan oleh Nabi Adam selama tinggal di bumi setelah diturunkan dari surga. Lalu masa itu ditambah dengan 43 tahun masa yang dihabiskan oleh Nabi Adam tinggal di surga sebelum diturunkan ke bumi. Keterangan masa tinggal Adam di surga itu disebutkan oleh Ibnu Jarir dan ulama lainnya. Dengan begitu, jika keduanya digabungkan maka usia Nabi Adam sepanjang hidupnya adalah seribu tahun.

Atha’ Al-Khurasan menuturkan, “Ketika Nabi Adam wafat, seluruh makhluk dari berbagai bangsa dan jenis menangis selama tujuh hari tujuh malam.” Riwayat ini disampaikan oleh Ibnu Asakir.[6]

Kisah Nabi Adam yang kami sajikan ini di ambil dari berbagai sumber terpercaya dan bisa dipertanggung jawabkan. Silahkan kunjungi Sepatumerah.net untuk mendapatkan tambahan wawasan dari berbagai pengetahuan yang mungkin belum anda ketahui secara mendetail. Semoga bermanfaat.

Referensi Kisah Nabi Adam

[1] Musnad Ahmad (4/400). Dan Shahih Al Jami’ (1755)

[2] HR. Ibnu Hibban (6165)

[3] Kami tidak mendapatkan hadits ini termaktub dalam Kitab Kasyfu Al-Atsar

[4] Musnad Ahmad (5/136)

[5] Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyqa (7/458)

[6] Tarikh Dimasyqa (459) 110 HR Ibnu Hibban (361)

Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Keistimewaan Nabi Sulaiman

Ulum
1 min read

Yusuf Dimasukkan Sumur

Ulum
4 min read