Jangan Sombongkan Kebisaanmu

Jangan sombong, sudah sepatutnya sebagai seorang hamba kita merendahkan hati. kita yang serba dengan unsur kelemahan, selayaknya menjauhkan diri dari kelimpung sikap sombong. kesombongan adalah sikap yang senantiasa ingin merongrong naluri keterpujian diri kita.

Coba bayangkan sebetapa kerugian yang akan kita panen. tiada untung jika dalam hati telah berkembang biak jenis kesombongan yang meliuk-liuk rindangnya.

Jangan Menyombongkan diri

Jangan sombong, berendah hatilah dalam menapaki setiap jengkal aktifitas

rendah hati dalam bersikap

Dalam menapaki aspal kehidupan, manusia selalu di dikte syari’at untuk jangan sombong. Betapapun keunggulan dan kebisaan yang kita punyai.

Entah berapa banyak ruang tamu kalangan agamawan nahdliyyin. Mulai dari santri sampai elite yang mulia kiai diberi hiasan dinding dengan kaligrafi bertuliskan untaian lafadz ini : هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ. Secara harfiyyah makna lafadz tersebut adalah : Ini semua berkat anugerah Tuhanku.

Bahkan kediaman yang Mulia guru saya di kampung halaman juga dihiasi kaligrafi ini di bagian “facade” atau tembok depan ndalemnya. Begitu masuk “ndalem” beliau, di tembok depan rumah, di dinding teras bagian atas, terdapat sebuah kaligrafi. Tulisannya berukuran besar dengan style cantik berbunyi : هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ. Dengan cat warna hijau segar(hijau NU).

Tentunya tulisan tersebut bukan kaligrafi biasa. Kalimat yang berasal dari potongan ayat Al-Qur’an dalam surah al-Naml itu memiliki makna dalam sekali. Sebetulnya tulisan itu melambangkan sebuah pandangan hidup yang sedemikian agamis.

Teori observasi jangan sombong dalam menjalani titah kemanusiaan

Penghayatan Jangan Sombong

Seorang antropolog yang hendak mengamati “world view” kaum santri. Dalam observasinya ini kalimat potongan ayat Al Qur’an tersebut mampu di jadikan acuan. Sekadar sebagai lubang ventilasi untuk melongok ke dunia batin status sosial santri.

Gus Dur pernah menyebut bahwa mereka kaum santri ini bertempat sebagai masyarakat yang hidup dengan sebuah “sub-kultur”. Sub kultur santri ini menempati sebuah budaya yang bernilai khas dan nyentrik.

Menurut saya, ke‘sub kultur’an kaum santri yang berbasis peradaban pesantren itu, salah satunya bisa tertandai dengan pandangan hidup yang diungkapkan melalui goresan seni lukis kaligrafi tersebut.

Historisitas inspirasi kaligrafi untuk jangan sombong

Sejarah Inspirasi

Kronologi kalimat ini, berasal dari ungkapan Nabi Sulaiman. Beliau adalah salah satu Nabi yang diberikan anugerah luar biasa oleh Tuhan. Berupa kerajaan yang agung, kemampuan menaklukkan para binatang dan skill yang sebegitu lihai dahsyatnya. Sehingga makhluk-makhluk gaib pun tunduk tak berdaya di hadapan Beliau.

Dalam rangka mensyukuri ini semua, Nabi Sulaiman kemudian mengucapkan ungkapan yang belakangan ini menjadi ciri khas ruang tamu kaum santri itu. Yaa untaian lafadz هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ (Hadza min fadli Rabbi).

Biar jangan sombong, ingatlah beberapa penghayatan

Penghayatan Agar tidak sombong

Kalimat ini dalam kacamata saya memancarkan sebuah pengertian yang luar biasa. Sebesar apapun usaha manusia, toh pada puncaknya usaha itu tidak seluruhnya mampu menentukan hasil akhir.

Banyak faktor luar, “eksternalitas”, yang di luar kontrol kebisaan manusia dalam menentukan berhasil tidaknya usaha-usahanya.

Dalam setiap gerak usaha apapun, selalu ada kecimpung faktor “internalitas”. Yakni faktor-faktor dalam yang kurang lebih masih bisa dikontrol oleh seseorang. disamping itu juga sekaligus melibatkan faktor “eksternalitas”. Yakni hal-hal luaran yang tidak bisa manusia kuasai sepenuhnya.

Andaipun usaha tersebut berakhir dengan sebuah kesuksesan, tak seluruhnya keberhasilan itu berkat usaha orang yang bersangkutan. Pastinya ada campur tangan dari “Atas” dalam kesuksesan tersebut.

Karena itulah, setiap keberhasilan yang kita capai harusnya diimbangi dengan kesadaran yang mendalam. Bahwa Ada anugerah Tuhan yang tercurah dan membuat usaha kita berhasil. Jangan sombong lantas tergesa-gesa sok-sokan membusungkan dada.

Jangan sombong, resikonya sedemikian fatal

dampak yang fatal

Dengan pengertian seperti ini, manusia akan terjauhkan dari perasaan arogan. Ungkapan kaligrafi seperti yang tertulis di dinding-dinding ndalem agamawan ini setidaknya menyiratkan simbol. Ada pesan agar sikap rendah hati sudah sepatutnya dimiliki oleh setiap orang beriman.

Orang sombong dalam islam sangat dikecam endingnya kelak. Meski kesombongannya hanya sebesar bongkahan atom. Jalankan episode kehidupanmu dengan motto hidup dan bekal iman yang berperforma.

Dan yang perlu panjenengan ketahui juga bahwa ungkapan ini bukan berjeniskan sikap fatalisme. Bukan juga sikap menyerah pada nasib secara pasif, tanpa adanya wujud usaha dan ikhtiar dari pihak kita sebagai seorang manusia.

Ungkapan ini justru dan seharusnya melambangkan sikap “aktivisme”, yakni bertindak aktif. Bisa menyesuaikan kemampuan yang ada pada diri kita, sepaket dengan dibarengi rasa sadar bahwa usaha itu bukanlah determinan. Usaha bukan pula faktor satu-satunya yang menentukan hasil akhir.

هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

Semoga jiwa-jiwa kita terbasuhi keterpujian-keterpujian..
Sekian..

Baca Juga : Sepatu Merah agar rute hidup anda terlepas dari dampak negatif internet

2 tanggapan pada “Jangan Sombongkan Kebisaanmu”

  1. Pingback: Teori Kebahagiaan Dalam Analisa Spesifik - Sepatu Merah

  2. Pingback: Makna dan Arti Ucapan Assalamualaikum - Sepatu Merah

Tinggalkan Balasan