Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Boleh Nggak Sih Bagi Seorang Muslim?

4 min read

Hukum Mengucapkan Selamat Natal – Saya sangat senang dan bangga dengan ajaran Islam yang sedari dulu saya anut. Berkali-kali saya musti bersyukur sebab terlahir di sekeliling orang-orang yang mengenalkan Islam dengan baik.

Islam dalam perspektif mereka adalah jalan luas yang mampu menampung para pejalan dalam jumlah makro. Dan hebatnya lagi, semua pejalan tidak merasa dikhawatirkan akan tersesat. Selama ia berpegang teguh pada norma-norma yang sudah ditetapkan.

Disini saya akui sekali. Cara Islam yang saya kerjakan ini masih teramat jauh sekali ketimbang cara berislamnya Nabi Muhammad SAW. Namun dengan bersama pemuka agama yang saya anut, saya mengerti betapa sangat ramah cara Islamnya Nabi.

Nabi Muhammad memiliki sebuah harapan agar semua muslim masuk kedalam surga. Lagipula surga juga teramat luas, sangat bisa kalau sekadar menampung siapa saja yang sudah serius berjalan menuju rahmat Allah. Akan tetapi, saya merasakan aroma dari entah arah mana. Ada oknum entah siapa yang masih saja bersitegang membatasi sifat rahmat-Nya. Dan naasnya, pembatasan itu melalui koridor-koridor yang mereka sendiri sebenarnya belum matang memasaknya.

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Tetek Bengeknya

Hukum Mengucapkan Natal dan Tetek Bengeknya

Hari Raya Natal sebentar lagi tiba. Banyak sahabat muslim yang menanyakan tentang Hukum Mengucapkan Selamat Natal. Duh betapa jengkelnya saya, karena sesungguhnya persoalan ini sudah di perbincangkan sejak dulu. Bahkan sebelum kemunculan media sosial seperti fesbuk dan twitter.

Di kedalaman ruang benak saya, ada sebuah beberapa renungan pemikiran. Begini, sangat mungkin sekali umat muslim hidup bergumul di tengah-tengah orang-orang non muslim. Apalagi yang hidup di daerah Eropa. Warga non muslim itu bisa hadir sebagai teman karib, kolega, tetangga, rekan kuliah, guru, pembimbing, mitra kerja, bahkan sangat mungkin sekali sebagai keluarga yang anggotanya kalian islamkan lalu kalian nikahi.

Dari keadaan diatas, apakah salah jika memberi ucapan selamat Natal kepada orang-orang yang sudah saya gambarkan diatas?

Gejolak Para Muslim Mendekati Hari Natal

Gejolak Para Muslim Mendekati Hari Natal

Momentum perayaan natal sekarang ini membuat saya terpantik untuk merenungi banyak perkara. Dalam tahap perenungan ini, basis saya tertuju ke diskursus teologi. Sementara instrumennya adalah penalaran kritis dan wawasan yang luas.

Penalaran yang telah diselimuti dogma-dogma serta wawasan keagamaan yang tidak luas merupakan penyebab dari segala keretakan berpikir dalam memahami berbagai hal. Apalagi teori diskursus ini sangat kompleks. Untuk itu, seseorang yang berbekal kedangkalan berpikir tidak akan menemui jawaban yang diinginkan oleh jiwa-jiwa yang sedang dalam kedahagaan.

Mengenai bekal unsur yang paling tidak kita kantongi untuk menelaah diskursus ini adalah dalil naqli, pemahaman teologis, pendalaman sosiologi manusia serta sejarah-sejarah. Apabila diawal atau ditengah penelaahan kita gagal memahami dialektika keempat unsur tersebut, niscaya kelirulah cara berpikir kita.

Kita kaitkan diskursus tersebut dengan momen perayaan Natal ini. Sehubungan Hari Natal yang sebentar lagi akan hadir, kita selaku umat Islam jangan sampai digonjang-ganjingkan oleh statemen yang mencekam mengenai hukum mengucapkannya. Adanya kegagalan dalam memahami aspek teologi dan sosiologi pada momen ini akan melahirkan pertentangan-pertentangan yang seharusnya kita sikapi dengan dewasa.

Studi Persoalan dan Tinjauan Penelitian

Studi Persoalan dan Tinjauan Penelitian

Hakikatnya, aspek sosiologis dan teologis pada suatu realitas adalah wujud yang padu. Namun tetap saja kita perlu menganalisa hal tersebut secara epistemologis. Sepatutnya kita membuat sebuah pemetaan dengan memanfaatkan jalur konsepsi akal.

Secara epistemologis, perkara mengucapkan natal kepada umat Nasrani itu menyangkut unsur sosiologis. Hal ini serupa dengan kita memberikan ucapan selamat kepada sesama atas suatu pencapaian. Seperti halnya mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih. Sama dalam tanda kutip hanya sebatas kata ucapan.

Dalam muatan ajaran Islam, persoalan sosiologis masuk dalam kategori diskursus perilaku, atau biasa kita sebut akhlak. Pembicaraan mengenai akhlak tersebut kaitan eratnya adalah relativitas nilai dalam tatanan bermasyarakat, bukan tatanan hubungan vertikal.

Sehubungan hal tersebut berkategori akhlak (sosiologis), maka tentunya tidak lantas menghilangkan identitas keislaman seseorang jika mengucapkan selamat natal. Karena keislaman seseorang di kategorikan berdasarkan diskursus akidah, keyakinan nuraninya.

Toh ada satu adagium yang bisa kita jadikan korelatif selaras dengan fenomena ini. Yakni, perbedaan adalah keniscayaan semesta. Bahwa keragaman dari alam semesta merupakan takdir takwini, kehendak azali Tuhan. Dan itu jelas di luar jangkauan manusia.

Adanya adagium yang menyatakan bahwa perbedaan adalah niscaya, maka saya pun juga menyadari bahwa pastinya juga akan muncul perbedaan pendapat dalam diskursus kali ini. Maka dari itu pula, saya senantiasa bersikap untuk tidak menafikan realitas tersebut dan tidak juga menjelmakannya sebagai masalah baru.

Perbedaan Ulama Mengenai Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Perbedaan Ulama Mengenai Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Dari secerca masalah itu, Ulama berbeda pendapat. Diantaranya adalah Ibnu Taimiyyah. Beliau sangat keras menentang dan mewejang agar umat muslim tidak ikut berbaur dalam perayaan-perayaan hari besar non muslim.

Dalam hal ini, saya sependapat dengan Ibnu Taimiyyah yang mewanti-wanti umat muslim untuk tidak turut hadir dalam upacara-upacara non muslim itu. Pasti disana terdapat unsur yang dapat merusak akidah seorang muslim.

Tapi menurut analisa saya pribadi, akan sangat berbeda jika hanya seutas ucapan-ucapan selamat. Sebatas ucapan kata, tak lebih. Ucapan kata yang lumrah kita berikan di hari-hari tertentu yang terdapat momen kebahagiaan di dalamnya. Semisal saat ulang tahun, hari kelahiran, naik pangkat dan hal menggembirakan lainnya.

Dalam studi kasus kali ini kita harusnya terfokus pada satu titik. Yakni merelevansikan apakah benar mengucapkan selamat Natal merupakan suatu bentuk pengakuan dan konfirmasi terhadap keyakinan yang mereka anut? Tidak bukan.

Kalau kita perdalam lagi, sebenarnya dalam hubungan sosial dengan saudara kita yang non muslim ini ada nilai dakwah. Kita bisa kenalkan mereka ajaran-ajaran islam dengan cara yang halus, cara-cara enjoy yang tidak mereka sadari. Logisnya, kita tidak mungkin bisa mengenalkan Islam kepada mereka jika berteman saja kita enggan.

Namun letak persoalan kita hari ini tidak sesederhana itu. Ada segerombolan orang yang la ‘alaqata ma’a ghairil muslim la min qorib wa la min ba’iid. Segelintir kelompok itu ikut-ikutan berkecimpung mengenai hukum mengucapkan selamat Natal. Padahal pengetahuan akan keislaman mereka belum cukup matang untuk disajikan dimeja tamu. Ini kan kacau. Lagian keluarga mereka juga muslim semua, belajar di institusi muslim, temannya Islam kabeh sisan. Mana tahu dengan keadaan dimana terdapat keyakinan yang kompleks. Lalu sebenarnya tujuan mereka apa?

Jujur saya juga tidak mengucapkan selamat Natal karena lingkungan sekitar saya muslim 100%. Akan tetapi saya akan merasakan betapa bahagianya jika hal ini tidak lagi diperbincangkan sampai berlarut-larut begini. Apalagi sampai pada level tuding-menuding. Untuk dalil detailnya bisa anda simak Disini.

Kesimpulan Permasalahan

Kesimpulan Permasalahan

Letakkan saja keadaan ini sebagaimana pembahasan hukum yang diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang membolehkan, ada juga yang tidak. Cukup. Karena ulama salaf pernah dawuh: Tidak bisa hukum yang masih diperselisihkan ditolak salah satunya.

Gampang dan simpel bukan? So, jika sudah sama-sama saling memahami dan menempatkan posisinya, kita akan mudah untuk naik kelas. Bagi yang belum matang ya dimatangkan dulu. Jangan gegabah menyajikan menu yang setengah atau bahkan seperempat matang. Bikin mules.

Saya sangat mempersilahkan adanya beberapa persepsi dan menerima dengan lapang dada adanya spekulasi. Kita sewajarnya jembar dodo mengenai sebuah hasil yang berbeda, karena dalam menarik sebuah kesimpulan dalam berargumentasi juga melalui jalur yang berbeda. Namun disatu sisi saya meyakini bahwa sebuah spekulasi itu memiliki syarat. Apa syarat tersebut? Yaa, argumentasi rasional. Tidak cuma itu, harus didukung dengan referensi yang aktual, akurat dan valid.

Dari penjelasan diatas, setidaknya saya mampu memahami bahwa dalam ucapan Natal ada muatan toleransi dalam hubungan sosial. Bukan berkaitan dengan ritus keyakinan yang sudah terpatri di kedalaman nurani. Dalam sekadar ucapan itu juga terkandung sebuah nilai-nilai penghormatan sebagai sesama manusia, saling berlaku kebaikan dan menyebarkan kedamaian satu sama lain. Bukankah ini suatu keindahan?

Terimakasih telah berkenan mampir. Kunjungi juga artikel menarik lainnya di Sepatumerah. Biar wawasan kita mencakrawala.

Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Arti Ghibah Menurut Islam

Ulum
4 min read

Profesionalisme Nazhir

Ulum
5 min read

Dampak Negatif Internet

Ulum
3 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *