Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Dampak Negatif Internet

3 min read

Dampak Negatif Internet

Dampak negatif internet ini mampu kita resapi dari berbagai aspek kehidupan. Meski dilain sisi, dampak positif internet juga dirasakan oleh berbagai pihak karena lebih mempermudah dalam menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Hampir segala jenis aktivitas seseorang selalu bergantungan dengan keberadaan internet. Mulai dari sektor pendidikan, ekonomi, politik, sosial hingga budaya. Semua kegiatan yang mereka jalani nyaris melibatkan peranserta internet.

Baca Juga : Motto hidup agar merasakan Kebahagiaan yang Permanen

Menguak Dampak Negatif Internet

Di era digital saat ini, masyarakat dimudahkan dalam mengakses berbagai macam informasi. Hanya dengan berbekal smartphone android, informasi yang di kehendaki dengan cepat seketika bisa didapatkan. Namun disadari atau tidak, keadaan semacam ini juga mengakibatkan adanya pergeseran pada perilaku masyarakat dalam menyikapi sebuah informasi. Terlebih soal menyerap masalah keagamaan.

Keharmonisan Belajar Agama Kepada Ulama

Menepis Dampak Negatif Internet

Sudah bukan rahasia lagi bahwa perilaku umat islam kekinian telah mengalami sedemikian banyak pergeseran. Hal ini bermula semenjak kehadiran teknologi internet yang super canggih. Terutama saat mencari informasi tentang keislaman. Dulu sebelum ada jaringan internet, hubungan antara umat dan tokoh agama sangat harmonis. Saat umat memiliki problem dan membutuhkan informasi perihal agama, mereka akan secara langsung sowan kepada ulama terkait.

Dalam masyarakat tradisonal dulu, hubungan antara santri-kiai bersifat permanen, sepanjang hayat. Bahkan setelah kiai bersangkutan wafat, kang santri akan terus menjaga hubungan spiritual dengan kiainya itu melalui ritual ziarah ke makamnya. Hubungan yang langgeng ini membuat seorang santri cenderung loyal kepada nilai-nilai keislaman yang ia peroleh dari kiainya. Corak pemahaman keislaman semacam ini cenderung lebih stabil, tidak mudah berubah.

Keutamaan Belajar Agama Secara Langsung Kepada Ulama

Ngaji Bareng Ulama

Hubungan stabil itu mempunyai makna yang baku. Yakni, pemahaman agama memiliki karakter yang sifatnya komunitarian dan kolektif. Bukan bersifat individual. Keakraban komunikasi ini membuat seseorang memiliki ikatan yang kuat pada ulama yang bersangkutan.

Hubungan tersebut juga akan menempatkan mereka untuk setia pada suatu kultur budaya tertentu. Jika seseorang telah setia pada dawuh yang diberikan oleh satu ulama, maka orang tersebut akan secara ajeg berpedoman pada budaya keislaman yang diajarkan oleh ulama tersebut.

Dampak Negatif Belajar Agama dari Internet

Sisi Buruk Internet Dalam Islam

Dalam masyarakat pra-internet, kiai dan ulama lah pihak yang menjadi koki. Di era internet, yang menjadi koki sekaligus konsumen adalah inidividu muslim yang bersangkutan. Kini, seorang individu muslim mempunyai kebebasan penuh untuk menyeleksi sumber dan mengakses bahan apapun yang ada di internet. Dia menjalankan fungsi laksana koki yang dengan bebas memilih komposisi yang hendak ia masak.

Di era Internet ini, jalinan harmonis yang ada dalam ritme kehidupan masyarakat tradisional tidak lantas sirna secara keseluruhan. Sekarang inipun masih ada beberapa umat islam yang langgeng melestarikan hubungan dengan tokoh agama. Namun tidak terelakkan, bahwa ada semacam perubahan-perubahan dalam menjalani momen hubungan itu. Berikut beberapa perubahan sikap dari orang-orang yang kecanduan mengunyah informasi dari internet,

  • Tidak mengedepankan etika dan sopan santun dalam ucapan atau komentar. Ditambah lagi dengan tidak berinteraksi secara langsung, mereka dengan leluasa dan gampangnya membantah dengan kasar kepada para alim, kiai dan orang yang terakui potensinya.
  • Dengan memakai jurus copy paste link berita, artikel, video atau gambar yang tidak jelas kesochihannya, mereka membantah, menyalahkan bahkan sampai membentak orang yang lebih sepuh seolah-olah paham betul dengan masalah yang dibahas.
  • Mudah terpengaruh informasi hanya lewat judul berita atau artikel yang beredar. Sikap kritis dan tabayun hilang karena sentimen kecintaan maupun kebencian terhadap seseorang atau sesuatu yang didiskusikan.
  • Seenaknya menafsirkan ayat, dalil, istilah dan berbagai hal yang sedang hangat dibicarakan di media sosial menggunakan penafsiran mereka sendiri. Setelah itu mereka menyalahkan penafsiran yang dibuat oleh mereka sendiri. Mereka tidak menanyakannya kepada orang yang benar-benar berkompeten.
  • Belum tahu substansi permasalahan yang diulas sudah nyelonong berkomentar dan menyalahkan. Belum paham tapi sudah merasa paling tahu.
  • Tidak obyektif dalam berkomentar. Kebenaran dari orang yang dibenci disalahkan. Sementara kesalahan orang yang disenangi dibenarkan.

Secara berangsur-angsur kita akan dipertontonkan dengan keadaan yang berbau aroma impersonalisasi. Gejala ini mampu kita analisa melalui fenomena-fenomena generasi muslim anyaran yang doyan mengkonsumsi informasi keislaman melalui situs-situs yang bersliweran di internet. Mereka tak lagi mau menyempatkan diri menemui ulama secara langsung. Mereka tidak lagi suka mencium tangan-tangan yang mengalirkan berkah.

Pengaruh Internet Terhadap Metode Pemilihan Informasi

Pengaruh Negatif Internet

Di internet berhamburan situs yang menyajikan bahan-bahan mengenai Islam, termasuk fatwa tentang isu apapun. Masing-masing situs bisa menyediakan informasi yang saling kontra produktif, memuat fatwa yang berwarna-warni. Karena itu, seorang individu Muslim terpaksa harus menjadi “hakim” buat dirinya sendiri untuk menentukan fatwa dan informasi mana yang bakal ia pilih. Dirinya tak ada keharusan untuk patuh setia pada satu situs saja sebagai rujukan. Seorang individu Muslim menikmati kedudukan sebagai hakim bagi dirinya sendiri, tanpa harus tergantung pada petuah seorang ulama.

Membludaknya informasi yang bertebaran di internet membuat sebagian masyarakat semakin tidak selektif dalam mengambil informasi. Kalau dulu, orang yang berpengetahuan adalah orang yang banyak memiliki informasi. Tapi untuk hari ini, orang yang berpengetahuan adalah orang yang pinter menyeleksi informasi.

Kelemahan Internet Dalam Mentransfer Ilmu Agama

Kekurangan Internet Dalam Menyampaikan Ilmu

Saya kurang tahu berapa banyak umat Islam yang mengandalkan internet sebagai sumber rujukan keagamaan. Tentunya harus dilakukan sensus untuk mendapatkan data akuratnya. Akan tetapi, melihat makin meluasnya penggunaan gadget di kalangan masyarakat muslim sekarang, tidak terlalu salah jika kita beranggapan bahwa jumlah umat Islam yang mengandalkan internet sebagai sumber informasi Islam makin meningkat dari waktu ke waktu.

Akan tetapi mau bagaimanapun juga internet tak akan mampu menggantikan keberkahan seorang ulama sebagai rujukan. Meskipun realitanya kedudukan ulama pelan-pelan juga agak sedikit bergeser, sebab peran mereka tidak lagi menjadi the sole authority, sumber rujukan satu-satunya. Sebagian dari peran mereka berangsur-angsur mulai digantikan oleh “ulama-ulama gadged”.

Kesimpulan Dampak Negatif Internet

Kesimpulan Dampak Negatif Internet

Agama itu jalan hidup, bukan gaya hidup. Sudah mulai banyak masyarakat yang menjadikan agama sekedar sebagai gaya yang dilihat dari penampilan fisik saja. Banyak yang merasa paling beragama tetapi sesungguhnya tidak mengenal agamanya dengan benar. Menjadikan kegiatan ibadahnya untuk di pertontonkan dan mendapat pujian.

Mari kita berhati-hati dalam bermedia sosial. Terlebih dalam urusan agama. Apalagi jika dalam sebuah situs membawa serta kepentingan politik dalam menyajikan konten agamanya. Itu akan berbahaya. Mari belajar agama langsung kepada kiai dan ulama yang jelas silsilah keilmuannya. Bukan kepada situs-situs internet.

Kalau belajar agama melalui lembaga dunia maya, tidak ada yang mengingatkan kita saat menemui kesalahan. Tapi kalau belajar lewat dunia nyata, kita akan langsung diingatkan oleh guru kita sekaligus mendapatkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh guru virtual yakni keberkahan.

Di sini, kita bisa melihat bahwa kredibilitas ulama telah tergantikan oleh individu muslim yang bertindak sebagai kiai bagi dirinya sendiri. Dampak negatif internet telah membumi dialam pikiran para surfing medsos. Apakah ini gejala yang positif?

Dalam kehidupan keagamaan, tampaknya era ini justru membawa distopia, keadaan yang mencemaskan. Semoga kita dan anak cucu kita kelak bisa istiqomah belajar agama langsung kepada ulama. Terkhusus ulama aswaja, ulama-ulama NU.

Ahh.. Entahlah teman. Sruput dulu kopi hangatmu..

Sekian..

Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Profesionalisme Nazhir

Ulum
5 min read

Arti Subhanallah

Ulum
4 min read

Arti Istiqomah

Ulum
3 min read

One Reply to “Dampak Negatif Internet”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *