Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Cinta Sejati

6 min read

Cover Cinta Sejati

Cinta Sejati – cinta muncul manakala segala hal tentang seseorang telah menjelma menjadi sesuatu yang spesial di mata kita. Dari cara dia berpakaian, cara dia berkomunikasi, cara dia berekspresi, warna yang dia sukai, sampai semua hal lain tentang orang tersebut menjadi perkara istimewa yang begitu berarti buat diri kita.

Indahnya cinta bisa memudar ketika datang sebuah cobaan, kamu harus mampu menghadapi cobaan tersebut dengan penuh kesabaran. Supaya cinta yang indah kembali mekar dan tidak layu pergi luruh meninggalkanmu. Cinta tidak bisa ditemukan melainkan ditentukan lewat kehendak untuk membangun.

Definisi Cinta

Definisi Cinta Sejati

Berikut beberapa penjabaran arti cinta yang terangkum berdasarkan beberapa buah pertanyaan yang sempat diajukan ke saya.

  • Kalau kau bertanya kepadaku tentang cinta. Akan kukatakan bahwa cinta itu seluas langit yang menghampar. Ia Lapang tiada tepi, tiada penghalang, dapat dilihat dengan kenormalan dan menampung segala apa. Kadang cerah, berawan, pun bisa menghasilkan benturan petir yang menyambar-nyambar.
  • Kalau kau meminta info kepadaku tentang cinta. Akan kubilang bahwa cinta itu ibarat tanah. Ada yang subur, gersang, kokoh, berlumpur, berbatu, lembek maupun keras. Mesti pandai memilahnya agar bisa dipilih dengan jelas. Agar menumbuhkan beberapa tanaman yang nantinya bermanfaat bagi kehidupan kelakmu.
  • Kalau kau masih mendesakku tentang cinta. Kan kujawab bahwa cinta itu laksana angin yang berhembus dari selatan ke utara. Ia bisa menyejukkan tubuhmu, pun bisa memporakporandakan harapanmu. Kamu mesti pandai mengendalikan arahnya agar tidak malah berbalik melawanmu.
  • Kalau kau tetap sikukuh mau bertanya kepadaku tentang cinta. Kupikir cinta itu ibarat matahari yang bersinar tanpa jeda. Ia memancarkan cahaya dan kehangatan. Pun bisa membakar dan menghancurkan. Tinggal sikapmu saja bagaimana meresponnya.

Kalau sudah tak ada lagi, biar aku yang gantian menanyaimu. Apakah yang diperlukan dalam sebuah hubungan cinta adalah keindahan kata-kata? Atau cukup hanya dengan bekal kesungguhan dan bukti nyata? Karena bagiku cinta akan eksis selama dirimu benar-benar menyayanginya dengan penuh ketulusan dan keluguan tanpa pencitraan.

Kurasa semua orang bisa mengartikan cinta. Sesuai pengalaman pribadinya atau sesuka mereka. Meski sistem pengartian tersebut tidak semuanya obyektif. Namun ada sebuah kesimpulan yang harus diketahui dari semua ungkapan cinta bahwa cinta ada dari dia yang mencinta. Bukan dari isu liar yang beredar di kaum awam.

Perbedaan Antara Cinta Sejati dengan Obsesi

Perbedaan Antara Cinta Sejati dengan Obsesi

Ketika kamu mengucapkan cinta pada si dia, apakah kamu yakin ungkapan cintamu tersebut benar-benar cinta sejati atau sekedar obsesi belaka?

Meski cinta dan obsesi terkadang sangat sukar dikenali, kamu mustinya bisa membedakan. Tidak hanya untuk kebaikan dirimu saja, tetapi juga demi kebaikan orang lain. Dan seperti apakah cinta sejati yang sesungguhnya? Inilah beberapa perbedaan antara cinta sejati dan obsesi belaka.

 

Obsesi: Hanya Tertarik Pada Penampilan Fisik Pasangan

Orang terkait begitu tampan rupawan/cantik jelita sehingga kamu merasa bangga setiap kali jalan berdua. Tidak henti-hentinya dirimu mengagumi kesempurnaan fisiknya dan sama sekali tidak menemukan kekurangan dalam dirinya. Dimatamu, ia seakan malaikat sempurna tanpa kekurangan.

Dibalik penampilan fisik orang yang kamu sukai, kamu tidak mengenal dirinya yang sebenarnya. Seperti apa kepribadian yang ia miliki? Apa yang dia suka dan benci? Apa impian masa depannya? Kamu tidak mempedulikannya. Yang terpenting makhluk sesempurna dia hanya milikmu seorang.

Cinta Sejati: Secara Logis, Kamu Menyukai Semua Aspek Diri Pasangan

Cinta yang esensial bukan berarti kamu menyukai semua kualitas pasangan. Mungkin ada masanya kamu kesal melihat pasangan jarang berpakaian rapi. Ada kalanya kamu tidak tahan dengan sifatnya yang pelupa. Tetapi, kekurangannya tersebut tidak lantas menutupi kualitas-kualitasnya yang positif. Kamu mengetahui semua aspek kelebihan dan kekurangannya, tetapi kamu tetap setia mencintainya. Kalian terus berusaha mengimbangi satu sama lain.

 

Obsesi: Hubungan Dipenuhi Drama dan Konflik Berkepanjangan

Walaupun kamu dan dia telah mendeklarasikan mencintai satu sama lain, tetapi kalian saling cemburu, curigaan, posesif, dan tidak bisa menjalin komunikasi dengan baik. Kalian jadi menyakiti diri sendiri dan insecure. Seharusnya hubungan yang seperti itu cepat berakhir. Namun kalian tidak mau mengakhirinya karena telanjur terobsesi dan bergantung secara emosional satu sama lain, bukan atas dasar saling mencintai.

Cinta sejati: Sebuah Hubungan Memiliki Komitmen, Usaha, Komunikasi dan Kompromi

Realitanya, cinta yang ‘prima’ bisa tumbuh di antara pasangan karena komitmen dan usaha seimbang dari satu sama lain. Hubungan yang sehat tidak diwarnai drama karena pasangan bisa berkomunikasi dengan baik. Kalian bisa saling menghormati, mempercayai, dan  menghargai satu sama lain. Ketika kamu merasa dicintai tanpa merasa tertekan, itulah cinta sejati.

 

Obsesi: Kamu Tersihir Ekspektasimu Sendiri Tentang Diri Pasangan

Kamu tahu bahwa kamu dan dia tidak memiliki masa depan bersama. Kamu sadar kamu dan dia masih kekanakan. Kamu punya firasat seolah dia tidak akan mencintaimu seperti kamu mencintainya. Tetapi, kamu mengacuhkan semua itu dan tetap bersikukuh berhubungan dengannya.

Kamu yakin suatu saat nanti pikirannya akan berubah, kamu percaya dia tidak akan menyakitimu. Delusimu tersebut membuatmu bertahan, meski dirimu sesungguhnya telah merasakan sakit hati yang sudah sedemikian parahnya.  Dan sebenarnya membersamainya adalah kegiatan yang membuang waktumu saja.

Cinta Sejati: Kamu Mencintai Jati Diri Pasangan dengan Sesungguhnya

Mencintai seseorang berarti dirimu mencintai dirinya, bukan ekspektasimu tentangnya. Apabila kamu terkejut dan merasa kecewa saat menganggap pasanganmu bersikap di luar karakternya, itu berarti hubunganmu telah terjerat kategori obsesi. Jadi, kalau kamu benar-benar mencintai pasanganmu, kamu tidak akan merasa kecewa. Sebab kamu sudah mengenal diri pasanganmu dari dalam dan luar.

 

Obsesi: Pasangan Tidak Bisa Menjelma jadi Sahabat dekatmu

Oke, dirimu mencintai pasanganmu. Namun, apakah kamu bisa berbagi dengannya? Bisakah kamu mengungkapkan perasaanmu di depannya? Akui saja, hubungan yang kau jalin dengannya itu hanya untuk memuaskan obsesi dan mengisi kekosongan hatimu saja. Ketika kamu berhasil menemukan orang lain yang lebih baik untuk dijadikan pelampiasan ambisisimu, kamu tidak akan merasa rugi untuk meninggalkan pasanganmu saat ini.

Cinta Sejati: Pasangan Bisa Menjadi Partner Cinta Sekaligus Sahabat Paling Karib dalam Hidupmu

Karena kamu sudah nyaman dengan diri sendiri dan mampu menerima diri pasanganmu sepenuhnya, kamu bisa mengandalkan pasanganmu dalam hal apapun. Kamu dapat berbagi rasa dengannya dengan nyaman, kamu merasa lebih mudah memahami pasangan karena hatimu tidak diselimuti ekspektasi. Kamu dan dia memiliki komitmen untuk terus bekerja sama dalam mengatasi setiap hambatan yang muncul di depan mata.

 

Obsesi: Kamu Merasa ‘Butuh’ Pada Pasangan

Sehari saja dirimu tidak mendapat perhatian dari pasanganmu, pasti dirimu langsung mencak-mencak kelabakan, kecewa, dan langsung posesif. Tidak sedang sibuk, tetapi kenapa tidak membalas chatmu? Kamu curiga jangan-jangan dia berbohong dan malah jalan dengan orang lain, atau dia sudah bosan padamu. Kamu jadi mudah capek secara fisik, pikiran dan mental karena terlalu memusingkan diri seperti itu.

Cinta Sejati: Kegembiraanmu Tidak Bergantung Pada Pasangan

Pasanganmu sedang sibuk? Kamu akan tenang saja, karena dirimu juga memiliki kesibukan. Pasangan tidak menghubungi seharian? kamu akan tetep santai dan fokus sibuk dengan kegiatanmu sendiri. Kamu percaya penuh kepada pasanganmu. Kamu paham bahwa kehidupan pasanganmu tidak cuma berpusat pada dirimu saja. Hanya karena kalian berpasangan bukan berarti kalian harus terus berduaan. Begitu bukan?

 

Obsesi: Kamu Hanya Memikirkan Diri Sendiri

Kamu menuntut pasanganmu untuk membuktikan cintanya padamu dengan cara yang tidak realistis. Meski pasangan menolak karena permintaanmu membuatnya tidak nyaman, kamu tidak mempedulikannya. Kamu juga tidak menghargai komitmen dan kesepakatan hubungan yang sudah diresmikan bersama. Kamu menjalani hubungan demi keegoisanmu semata, sehingga kamu tidak mau berusaha sedikitpun memberikan kenyamanan kepada pasanganmu.

Cinta Sejati: Keinginanmu Berimbang dengan Usaha yang Kamu Berikan

Kamu tidak sampai hati melanggar komitmen dengan pasangan karena bagimu pasangan sangat berharga dan patut dijaga perasaannya. Tentu kamu memiliki banyak impian dan keinginan untuk dijalani bersama pasangan, tetapi kamu tidak mengabaikan kebutuhan pasangan. Semua cerita cinta dijalani dengan setara penuh kedewasaan.

 

Obsesi: Dirimu Terlalu Terisolasi dengan Pasangan Sehingga Lumpuh Saat Pasangan Tidak Disampingmu

Namanya saja obsesi, dia selalu berada di pikiranmu 24 jam nonstop. Pada awal hubungan sih no problem. Tetapi hal ini dapat berdampak fatal ketika dirimu tidak bisa melakukan apapun karena pasangan sedang tidak ada. Kamu jadi terikat padanya. Agar dia tetap ada buatmu, kamu mengubah dirimu agar sesuai dengan ekspektasi pasangan. Sama sekali tidak sehat bukan?

Cinta Sejati: Kamu Tetap Memikirkan Pasangan, Tetapi Tidak Hanya Dia Saja yang Ada Dalam Pikiran

Terkadang di sela-sela kesibukanmu, dirimu teringat pasangan dan terciptalah rindu. Wajar saja. Namun, kamu tetap menjalani kesibukanmu dengan normal. Kamu bisa melakukan kegiatanmu sendiri tanpa kehadiran pasangan. Kamu juga memikirkan hal lainnya seperti pekerjaan, hobi, teman-teman, dan keluarga. Kamu sadar, hubungan yang sehat tetap membiarkanmu menjalani kehidupanmu seperti biasanya.

 

Sekilas Kisah Tentang Metode Meniati Cinta Sejati

Berniat Menikahi

Pesan Penuh Hikmah

Teman sekaligus guru kehidupanku pernah bilang : “Jika perjuangan cintamu tidak mudah, berarti memang ia pantas diperjuangkan. Memang benar bahwa cinta akan menuntunmu, tapi tak sedikit cinta juga bisa menjerumuskanmu. Ada sebagian orang yang merasa cintanya akan menjelma sebagai penuntun, tapi dia tidak sadar bahwa sebenarnya cintanya sedang menjerumuskannya pada kesia-siaan”.

Aku dan kau tidak dekat. Berbicara pun kita sangat jarang, baik secara langsung ataupun via WhatsApp. Aku paham ini kemauanmu, dan aku setuju. Kita sepakat akan beberapa hal, meski tanpa terucap. Hal-hal semacam ini adalah kisah yang harus kita jalani. Kau menunggu aku mendatangi ayahmu, sebab gombalan itu bukan gayamu. Kau tidak suka bermain dengan hati, sebab kepastian yang paling romantis adalah sesuatu yang paling dinanti.

Temanku juga berpesan : “jika niatmu sudah salah, maka siap-siaplah cintamu akan musnah“. Disitu aku segera berpikir, inikah cinta sejati? Atau ini hanya sekadar dorongan nafsu?

Segera kuralat pikiranku. Kureset segala hal tentangmu. Dulu aku berjuang agar kau tidak segera diambil orang, dan disitulah letak kesalahanku. Dulu aku mencintaimu tanpa syarat, dan itulah kebodohanku. Harusnya : aku mencintaimu dengan niat, dan berjuang untukmu dengan segala tekad.

Upaya Pendewasaan Diri

Tidak masalah nanti jika kita akhirnya tidak bersama. Toh aku dan kau memang tidak dekat. Dan akhirnya aku pun belajar bagaimana merawat niat. Dan jika akhirnya aku dan kamu tidak menjadi kita, aku akhirnya belajar bagaimana mengendalikan sebuah hasrat.

Meraih cinta Tuhan. Itulah tujuan besarku. Tidak masalah dengan siapa nanti aku akan menyulam tali keluarga, tapi disitulah pondasinya. Yang kita cintai bisa pergi. Namun, kalau Tuhan menjadi backing dasar kita mencintai, kepergian seseorang akan mudah kita terima. Itulah motto hidup yang harus diingat oleh siapapun. Dimanapun dan kapanpun.

Ahh.. Pagiku kini terasa lebih nikmat. Yang kukejar bukan lagi seseorang, melainkan memperjuangkan niat agar tercapai menjadi kenyataan. Yang kutakuti bukan dia yang akan segera diambil orang, tapi aku lebih takut jika mencintai seseorang dengan niat yang belepotan.

Hakikat Cinta Sejati

Hakikat Cinta Sejati

Kau disebut pencinta jika kamu bisa mencinta. Mencinta dengan segala resiko yang bakal membuntuti. Bahkan saat cintamu tak terbalas. Atau terbalas namun dengan sebuah kepahitan. Dirimu harus bisa mencinta meski itu kegiatan sepihak saja. Karena cinta itu mesti tulus tanpa mengharap seuntai balas.

Beruntunglah mereka yang mencinta dan dicinta. Betapa indah dunia ibarat sudah berada di Surga. Namun cinta tak akan selalu baik-baik saja. Kamu dan dia musti saling menjaga. Hambatan perlu juga hadir untuk pendewasaan. Sikapi saja dengan maskulin dan penuh syukur.

Cinta sejati tidak bisa dikontrol. Istilahnya, tak ada tombol on atau off untuk ‘menyalakan’ rasa cinta. Sejati atau tidaknya cinta tergantung persepsi masing-masing orang. Hal yang mendasarinya adalah koneksi mendalam antara dua orang, yang merujuk pada komitmen dan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Cinta yang memiliki keseimbangan besar yang bisa bertahan.

Kukira inilah yang kutahu tentang cinta. Semoga kalian semua bisa senada. Jika masih ada yang ingin bertanya. Mungkin sebenarnya jawaban itu sudah kalian miliki. Cuma teorimu hanya mengendap karena tidak satupun ada wujud nyata realisasinya. itu hanya akan berangsur melapuk lantas merobohimu.

Sekian..

Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Kata Kata Bijak Tentang Cinta

Ulum
4 min read

Cerita Cinta

Ulum
3 min read

22 Replies to “Cinta Sejati”

  1. Butul”..
    I like it ..tdk ada yg slh dg prsaan..
    Krna prsaan seseorang yg brcinta rta” tdk bisa d.bohongi.

          1. Coba deh diungkapin..
            Siapa tahu kesampean maunya..
            Kalau nggak berani nggak usah aja ya..
            heuheuheu..

    1. Makanya cari kekasih. Karena kekasih akan menuntun ke jalan yang lurus. Siapakah kekasih yang sejati? Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *