Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Cerita Nabi Sulaiman

10 min read

Kisah Nabi Sulaiman

Cerita Nabi Sulaiman – yang kami sampaikan ini sangat menarik. Anda perlu mengetahui pengetahuan sejarah ini, karena kisah Nabi merupakan khazanah islam terbaik yang perlu di waris-wariskan kepada generasi kita. Mari rentangkan cakrawala pengetahuan sejarah kita tentang Kisah Para Nabi yang jarang diketahui orang ini.

Kisah ini dikutip dari sumber terpercaya dan bisa dipertanggung jawabkan kevalidannya. Silahkan Kunjungi Sepatumerah.net untuk mendapatkan pengetahuan sejarah Para Nabi yang mungkin belum anda ketahui secara mendalam.

Nama dan Nasabnya[1]

Al-Hafizh Ibnu Asakir mengatakan,[2]“Nama lengkapnya adalah Sulaiman bin Dawud bin Isai bin Obed bin Boas bin Salma bin Nahason bin Aminadab bin Ram bin Hezron bin Peres bin Yehuda bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.”
Ada lagi nasab lainnya yang disebutkan oleh ulama, namun semuanya hampir sama dengan riwayat Ibnu Asakir di atas.

Pewaris Kenabian

Allah SWT telah berfirman, “Nabi Sulaiman telah mewarisi Nabi Dawud. Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami telah diberi segala sesuatu. Sungguh, ini (semua) adalah benar-benar karunia yang nyata.” (An-Naml: 16). Yakni, Sulaiman mewarisi kenabian dan kerajaan Dawud, bukan mewarisi seluruh hartanya. Karena Dawud memiliki cukup banyak anak, maka tidak mungkin ia mewarisi seluruh harta kekayaan ayahnya tanpa memberikannya kepada saudara-saudaranya yang lain. Lagi pula disebutkan di dalam hadits shahih[3], yang diriwayatkan dari sejumlah sanad, dari sejumlah sahabat, bahwa Nabi pernah bersabda, “Peninggalan harta kami (para Nabi) tidak diwariskan, melainkan dibagi-bagikan sebagai shadaqah.” Pada riwayat lain disebutkan, “Kami para Nabi tidak mewariskan harta.”[4]

Pada riwayat-riwayat tersebut Nabi menjelaskan, bahwa para Nabi yang diutus oleh Allah kepada kaumnya tidak meninggalkan harta mereka untuk diwariskan, seperti yang dilakukan oleh umat mereka, namun harta yang mereka tinggalkan itu dijadikan shadaqah untuk kaum fakir dan orang-orang yang membutuhkan, tidak dikhususkan untuk keluarga dan kerabat mereka.

Sebab, harta dunia itu adalah suatu hal yang remeh dan hina bagi mereka, karena Allah yang mengutus mereka juga menganggap itu semua sebagai suatu yang tidak ada artinya. Allah berfirman, “Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu.” Yakni, Sulaiman memahami bahasa yang digunakan oleh bangsa burung, lalu ia menjelaskan kepada orang lain tentang maksud dan keinginan dari burung-burung itu.

Cerita Nabi Sulaiman Menjelaskan Percakapan Hewan

Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi meriwayatkan, dari Abu Abdillah Al-Hafizh, dari Ali bin Hamsyad, dari Ismail bin Qutaibah, dari Ali bin Qudamah, dari Abu Ja’far Al-Aswani (yakni Muhammad bin Abdirrahman), dari Abu Ya’qub Al-Qummi, dari Abu Malik, ia berkata, “Suatu hari, Sulaiman bin Dawud melihat seekor burung jantan berputar mengelilingi burung betina, lalu Sulaiman berkata kepada teman-temannya,”Apakah kalian tahu apa yang dikatakan oleh burung jantan itu?” Para Sahabat bertanya, “Apa yang dia (burung jantan) katakan wahai Nabi Allah?” Sulaiman menjawab, “Burung jantan itu sedang melamar burung betina untuk mau berkawin dengannya. Burung jantan itu berkata, “Berkawinlah denganku, maka aku akan menempatkan kamu di ruangan mana saja yang kamu mau di wilayah Damaskus ini.” Lalu Sulaiman melanjutkan, “Burung jantan itu tahu bahwa ruangan kosong di Damaskus ini terbuat dari bebatuan, tidak mungkin menggalinya. Namun, begitulah sifat para pelamar semuanya harus pandai berbohong.”

Ibnu Asakir[5] juga meriwayatkannya, dari Abul Qasim Zahir bin Thahir, dari Baihaqi, dan seterusnya seperti riwayat sebelumnya.

Sulaiman tidak hanya mengerti bahasa burung saja, namun ia juga mengerti bahasa hewan-hewan lainnya dari berbagai jenis. Buktinya adalah perkataan selanjutnya yang disebutkan pada ayat di atas, “Dan kami diberi segala sesuatu” Yakni, semua yang dibutuhkan seorang raja seperti dirinya, misalnya tentara, pasukan, dan pengikut. Baik itu dari bangsa jin dan manusia, burung dan hewan melata, bahkan bangsa setan sekalipun.

la juga diberikan ilmu yang luas dan pemahaman yang mendalam. la juga dapat mengungkapkan apa yang dimaksud oleh hewan-hewan, baik yang berbicara ataupun tidak. Kemudian Sulaiman berkata, “Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.” Yakni, karunia dari Allah, Pencipta langit dan bumi, serta segala sesuatu yang ada di dalamnya atau di antara keduanya.

Sebagaimana disebutkan pada firman Allah, “Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib. Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu. supaya kalian tidak terinjak oleh Sulaiman dan pasukannya, sedangkan mereka tidak menyadari hal itu.” Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Lalu Nabi Sulaiman memanjatkan doa, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah ilham kepadaku agar aku tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kedua orangtuaku. Dan supaya aku mengerjakan kebaikan yang Engkau ridhai. Dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang sholih.(An-Naml: 17-19).

Pada ayat-ayat itu Allah memberitahukan tentang hamba-Nya Sulaiman bin Dawud, seorang Nabi anak dari seorang Nabi, bahwa ketika pada suatu hari ia mengumpulkan seluruh bala tentaranya, dari bangsa jin, manusia, dan burung. Bangsa jin dan manusia berjalan bersamanya, sedangkan bangsa burung beterbangan di atasnya untuk menaunginya dari panasnya sinar matahari atau yang lainnya. Dan dari seluruh bala tentaranya itu, tentu saja ia telah menentukan para panglima, atau komandan yang merapikan barisan dari awal sampai yang paling ujung, hingga tidak seorang pun yang melenceng dari barisannya ataupun terlambat.

Cerita Nabi Sulaiman Memerintah Angin

Ketika Sulaiman rela meninggalkan kuda-kudanya untuk mencari keridhaan Allah, maka Allah menggantinya dengan karunia yang lebih besar, yaitu angin yang dapat berlari lebih kencang dari pada kuda-kudanya. Bahkan lebih kuat, lebih luar biasa, dan tidak perlu mengeluarkan biaya apapun “Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya kemana saja yang dikehendakinya” Yakni, ke negeri mana saja yang ia inginkan.

Ketika itu Sulaiman memiliki permadani besar yang kemudian dilapisi dengan berbagai jenis kayu, hingga permadani itu dapat menampung segala macam apa saja yang dibutuhkannya, dari mulai tenda-tenda, peralatan perang, peralatan-peralatan lainnya, burung-burung, kuda-kuda, onta-onta, dan hewan-hewan tunggangan atau pembawa beban lainnya, juga termasuk bala tentaranya dari bangsa jin dan manusia.

Apabila Sulaiman hendak berpergian ke suatu tempat, atau bertamasya, atau ingin memerangi sebuah kerajaan atau musuh di negeri mana pun. Maka, Sulaiman akan membawa seluruh bawaannya itu ke atas permadaninya. Lalu ia memerintahkan kepada “riih” (angin biasa) untuk masuk ke bawah permadani itu dan mengangkatnya. Setelah berada di antara langit dan bumi, maka ia memerintahkan “rukha” (angin yang berhembus sepoi-sepoi) untuk menjalankan permadani itu. Apabila ia menjalankan permadaninya lebih kencang, maka ia akan memerintahkan “ashifah” (angin yang berhembus sangat kencang/angin ribut), hingga ia dapat terbang dengan kecepatan yang tinggi.

Pada suatu pagi angin itu membawa Sulaiman ke negeri Ishtakhr, yang biasanya di tempuh dalam waktu satu bulan perjalanan. Kemudian ia menghabiskan waktunya di sana hingga sore hari. Kemudian sore itu angin tersebut membawanya kembali pulang ke rumahnya di Baitul Maqdis.

Hasan Basri pernah mengatakan,[6] terkadang Sulaiman pergi dari Damaskus di pagi hari menuju negeri Ishtakhr, lalu di sana ia makan siang dan melanjutkan perjalanan ke Kabul, setelah sampai di Kabul ia menginap di sana. Antara Damaskus ke Ishtakhr itu sebenarnya menghabiskan waktu satu bulan perjalanan, dan dari Ishtakhr ke Kabul juga seharusnya menghabiskan waktu satu bulan perjalanan.

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Sejumlah ulama ilmu Kalam banyak menyebutkan tentang sejumlah bangunan dan negeri yang dikaitkan dengan Sulaiman. Misalnya negeri Ishtakhr yang dibangun oleh bangsa jin untuk Sulaiman, di negeri itu terdapat istana raja Turki terdahulu. Begitu juga dengan sejumlah negeri lain, seperti Tadmur, Baitul Maqdis, Bab Jairon, Bab Barid, yang keduanya terletak di negeri Damaskus.”

Cerita Nabi Sulaiman Menundukkan Bangsa Jin dan Syetan

Bangsa jin yang diperintahkan oleh Allah untuk tunduk kepada Sulaiman dan melakukan pekerjaan apapun yang disuruh olehnya, mereka tidak menyimpang dan tidak juga menentang perintahnya. Sebab, jika mereka melakukan hal itu mereka akan dihukum dan diadzab.

Selanjutnya, Allah berfirman, “Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu.” (Shaad: 37-38).

Yakni, di antara bangsa setan juga ada yang ditundukkan oleh Allah bagi Sulaiman. Tugas mereka antara lain untuk mendirikan bangunan, menyelam ke dalam lautan untuk mengambil mutiara atau benda-benda berharga lainnya yang tidak ditemukan kecuali di dasar laut.

Dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu. Yakni, di antara bangsa setan juga ada yang menolak untuk tunduk kepada Sulaiman, hingga mereka harus dibelenggu, dan satu belenggu untuk dua setan. Itu semua adalah karunia Allah bagi Nabi Sulaiman, sebagai kesempurnaan dari kerajaan yang dimilikinya, tidak ada yang memiliki kerajaan itu sebelumnya, dan tidak ada pula yang memiliki setelahnya.

Imam Bukhari meriwayatkan,[7] dari Muhammad bin Basysyar, dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Muhammad bin Ziad, dari Abu Hurairah,dari Nabi, beliau bersabda,“Sesungguhnya tadi malam seorang Ifrit dari bangsa jin mencoba untuk menggangguku agar aku menghentikan shalatku. Namun Allah memberikan aku kuasa untuk mengalahkannya, lalu aku mencekiknya. Dan ketika aku ingin mengikatnya pada salah satu pagar masjid agar kalian semua dapat melihatnya, tiba-tiba aku teringat dengan doa saudaraku, Sulaiman, Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Maka aku pun melepaskannya dengan laknatku.”

Hadits dengan sanad dari Syu’bah ini juga diriwayatkan oleh Muslim dan Nasa’i.[8]

Cerita Nabi Sulaiman Berpesan Kepada Malaikat Maut

Abu Dawud dalam Kitab “Al-Qadar” meriwayatkan, dari Utsman bin Abi Syaibah, dari Qubaishah, dari Sufyan, dari Al-A’masy, dari Khaitsamah. Ia berkata, Sebelum Sulaiman meninggal dunia, ia pernah berpesan kepada malaikat maut, “Apabila sudah hampir tiba ajalku, maka beritahukanlah kepadaku”. “Aku tidak lebih mengerti tentang hal itu daripada kamu. Karena aku hanya diberikan catatan untuk mencabut nyawa seseorang tepat pada saat tiba ajalnya.” jawab Malaikat Maut.

Ashbag bin Faraj dan Abdullah bin Wahab meriwayatkan,[9] dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, ia berkata, Sulaiman pernah berpesan kepada malaikat maut, “Apabila kamu telah diperintahkan untuk mencabut nyawaku, maka beritahukanlah kepadaku.”

Lalu pada suatu hari malaikat maut datang kepada Sulaiman dan memberitahukan, “Wahai Sulaiman, aku telah mendapatkan perintah untuk mencabut nyawamu. Kini ajalmu hanya tinggal sebentar lagi.” Lalu Sulaiman memanggil para pekerjanya dari bangsa setan dan memerintahkan mereka untuk membangun sebuah istana dari kaca yang tidak berpintu.

Setelah selesai pembangunannya, ia mengerjakan shalat di dalam istana itu dengan bersandar pada tongkatnya. Kemudian malaikat maut datang kepadanya dan mencabut nyawanya saat ia masih berdiri dengan tongkatnya. Dan Sulaiman membangun istana tanpa pintu itu memang bukan untuk melarikan diri dari malaikat maut.

Setelah meninggal dunia, para jin masih saja bekerja ke sana-sini tanpa mengetahui bahwa Sulaiman telah wafat. Padahal mereka selalu melihat ke arahnya. Lalu Allah mengutus hewan-hewan kecil untuk memakan tongkat Sulaiman. Hingga ketika sampai di bagian yang paling ujung. Maka tongkat itu pun melemah dan tidak kuat lagi untuk menahan beban jasad Sulaiman. Akhirnya Sulaiman pun jatuh.

Ketika bangsa jin mengetahui bahwa Sulaiman telah meninggal dunia, maka mereka pun pergi dan membubarkan diri. Itulah makna dari firman Allah, “Tidak ada yang memunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin. Bahwa andaikan mereka mengetahui yang gaib, tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”.

“Aku diberitahukan oleh perawi lain, bahwa dari saat kematian Sulaiman. Hingga ia terjatuh karena tongkatnya dimakan oleh rayap itu berjarak satu tahun lamanya”. Penjelasan Asbagh. Keterangan yang sama juga diriwayatkan dari sejumlah ulama salaf. Wallahu a’lam.

Ishaq bin Bisyr meriwayatkan,[10] dari Muhammad bin Ishaq, dari Zuhri dan juga ulama lain, bahwasanya usia Sulaiman hanya mencapai 52 tahun saja. Sedangkan jabatannya sebagai raja berlangsung hingga empat puluh tahun lamanya.

Ishaq meriwayatkan, dari Abu Rauq, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwasanya Sulaiman menjadi raja selama dua puluh tahun. Wallahu a’ lam.

Dan Ibnu Jarir mengatakan,[11] “Sulaiman wafat pada usia lima puluh sekian tahun saja.” Dikatakan, pada tahun keempat sejak Sulaiman diangkat menjadi raja, ia mulai merenovasi Baitul Maqdis. Kemudian setelah ia meninggal dunia, kerajaannya diwariskan kepada anaknya, Rehabeam. Dan Rehabeam menjadi Raja Bani Israil selama tujuh belas tahun. Ibnu Jarir berkata, “Kerajaan Bani Israil terpecah-belah setelah wafatnya Rehabeam.”

Riwayat-Riwayat tentang Kisah Kematian Nabi Sulaiman

Dalam Surat Saba’ Ayat 14 Allah Ta’ala berfirman, “Ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), maka tidak ada yang menunjukkan kepada mereka atas kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.”

Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dari Ibrahim bin Thahman, dari Atha’ bin Saib, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi , beliau bersabda, “Setiap kali Nabi Sulaiman selesai mengerjakan shalatnya, ia selalu melihat sebuah pohon yang tumbuh di depannya. Lalu ia bertanya, “Siapa namamu?” Dan pohon itu pun memberitahukan namanya, kemudian Sulaiman bertanya lagi, “Apakah kegunaanmu?” apabila pohon itu menjawab untuk tumbuh besar, maka Sulaiman akan menumbuhkannya, dan jika pohon itu menjawab untuk obat, maka ia akan menanamkannya.

Awal mula kisahnya adalah pada setiap pagi. Sulaiman selalu menemukan pohon yang tumbuh di Baitul Maqdis. Lalu ia mendatanginya dan bertanya siapa namanya. Lalu, setelah diberitahukan namanya, maka Sulaiman akan menumbuhkannya apabila pohon itu berfungsi untuk tumbuh besar. Dan ia akan menanamnya jika pohon itu berguna sebagai obat penyembuh suatu penyakit.

Hingga pada suatu hari ada sebuah pohon yang tumbuh bernama ‘kharubah’, Lalu Sulaiman bertanya, “Siapa namamu?” Pohon itu menjawab, “Namaku adalah kharubah.” Lalu Sulaiman bertanya lagi, “Apakah kegunaanmu?” Pohon itu menjawab, “Aku tumbuh untuk meruntuhkan masjid ini.” Lalu Sulaiman berkata, “Allah tidak mungkin meruntuhkan masjid ini selama aku masih hidup. Itu artinya kamu tumbuh untuk mengabarkan kematianku.”

Lalu Sulaiman mencabutnya dan menanamnya di pagar miliknya. Setelah itu, Sulaiman masuk ke dalam mihrab dan melakukan shalat dengan bersandar pada tongkatnya (berdiri tegak sambil memegang tongkat). Lalu Sulaiman pun meninggal dunia, namun tanpa diketahui oleh setan yang bekerja untuknya. Mereka tidak pernah melarikan diri karena takut dihukum oleh Sulaiman.

Bangsa Jin Tidak mengetahui Perkara Ghoib

Saat Nabi Sulaiman menyadari bahwa saat itu adalah saat kematiannya, beliau memanjatkan sebuah doa, “Ya Allah, sembunyikan berita kematianku dari bangsa jin. Agar manusia menjadi tahu bahwa jin itu tidak memiliki ilmu tentang alam gaib”.

Bangsa jin yang melihatnya berdiri seperti itu tidak mengetahui bahwa Sulaiman telah meninggal dunia. Mereka masih saja terus bekerja untuk Sulaiman. Setelah satu tahun berlalu dan tongkat yang dijadikan sandaran oleh Sulaiman dimakan oleh rayap, barulah diketahui bahwa Sulaiman telah wafat. Sejak saat itu bangsa manusia pun mengetahui bahwa bangsa jin tidak tahu menahu tentang ilmu gaib. Karena Jika mereka mengetahuinya maka tidak mungkin mereka mau dipekerjakan dengan pekerjaan yang hina itu. Padahal tuan mereka sudah meninggal dunia selama satu tahun.

Lafazh hadits ini adalah lafazh Ibnu Jarir. Namun Atha Al-Khurasani adalah perawi yang lemah.

Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Asakir[12] melalui Salamah bin Kuhail, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, secara mauquf. Dan riwayat mauquf itu lebih mendekati kebenaran. Wallahu a’lam.

As-Suddi meriwayatkan,[13] dari Abu Malik dan Abu Saleh, dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Sulaiman terbiasa menyendiri di dalam masjid Baitul Maqdis. Terkadang satu atau dua tahun, terkadang satu atau dua bulan, terkadang kurang dari itu atau lebih lama dari itu. Makanan dan minumannya selalu dibawakan oleh para setan (setan adalah salah satu jenis bangsa jin). Lalu ketika suatu kali mereka membawakan makanan dan minuman seperti biasanya, namun mereka tidak mengetahui bahwa Sulaiman telah wafat.

Jasad Sulaiman yang berdiri sudah dipenuhi dengan pepohonan di bagian belakang dan depannya. Dan setan hanya berkumpul di sekeliling mihrab saja. Kemudian setan yang bertugas untuk membawa makanan dan minuman kebingungan dengan kondisi tersebut. Lalu ia berkata, “Bukankah aku makhluk yang kuat, aku masuk saja melalui sisi ini lalu keluar dari sisi sana.” Kemudian setan itu pun melakukan seperti yang direncanakannya.

Melihat hal itu, salah satu setan yang berkerumun di sekeliling mihrab. Mereka mencoba untuk masuk ke dalam mihrab tersebut. la berjalan-jalan di dalam mihrab itu tanpa melihat Sulaiman. Karena setiap kali Sulaiman berada dalam mihrabnya, maka setan yang melihat ke arahnya tubuhnya akan hangus terbakar. Setelah cukup lama berjalan-jalan tanpa melihat Sulaiman, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak mendengar suara Sulaiman.

Lalu ia kembali lagi dan tetap tidak mendengar apapun. Setelah itu, ia kembali lagi dan mencoba melihat ke arah tempat Sulaiman berdiri, dan ternyata tubuhnya tidak hangus terbakar. Lalu ia mendekati jasad Sulaiman yang sudah tidak berdiri lagi dan tidak bernapas lagi.

Maka ia pun segera keluar dan mengabarkan kepada manusia bahwa Sulaiman telah wafat. Lalu mereka pun segera membuka mihrab tersebut dan mengeluarkan jasad Sulaiman dari sana. Ternyata tongkat Sulaiman telah dimakan oleh rayap-rayap. Mereka tidak tahu sejak kapan Sulaiman wafat.

Kemudian mereka menyingkirkan rayap-rayap dari tongkat Sulaiman. Lalu mencoba menghitung berapa lama Sulaiman meninggal dunia dengan melihat seberapa besar tongkat itu dimakan oleh rayap. Setelah itu barulah mereka mengetahui bahwa Sulaiman telah meninggal sejak satu tahun. Sejak saat itu bangsa manusia baru meyakini bahwa jin telah membohongi mereka selama ini. Karena telah mengatakan bahwa mereka mengetahui hal-hal gaib.

Mereka tidak mungkin diam saja dipekerjakan seperti itu selama satu tahun sejak kematiannya. Inilah maksud dari firman Allah, “Tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah para jin. Bahwa andaikan mereka mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.”

Bangsa manusia akhirnya menyadari bahwa selama ini mereka dibohongi oleh bangsa jin yang mengatakan bahwa mereka mengetahui hal-hal yang gaib. Di dalam riwayat ini terdapat banyak keterangan yang diambil dari israiliyat. Karena itu, riwayat ini tidak perlu dipercaya dan tidak perlu juga didustakan.

Referensi Cerita Nabi Sulaiman

[1]Nama Sulaiman disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak enam belas kali. Yaitu, pada surah Al-Baqarah: 102, An-Nisaa’: 167, Al-An’am: 84, Al-Anbiyaa’: 78, 79 dan 80, An-Naml: 15, 16, 17, 18, 20, 36 dan 44, Sabaa’: 12 dan surat Shaad: 30 dan 34
[2]Tarikh Dimasyqa (22/230) dan Mukhtasharnya (10/117)
[3]Shahih Bukhari, Bab Kewajiban Shalat Lima Waktu (3093-3094, juga pada Bab Keutaman Para Sahabat (3712) dan Bab Peperangan (4036 dan 4240-4241). Diriwayatkan pula oleh Muslim, Bab Jihad, Bagian: Sabda Nabi, “Peninggalan harta kami (para Nabi) tidak diwariskan, melainkan dibagi-bagikan sebagai shadaqah”
[4]Musnad Ahmad (2/463)
[5]Tarikh Dimasyqa (22/232) dan Mukhtasharnya (10/118)
[6]Tafsir Ibnu Katsir (3/528)
[7]Shahih Bukhari, Bab Kisah Para Nabi (3423)
[8]Shahih Muslim, Bab Masjid dan Tempat Shalat (541)
[9]Tafsir Ibnu Katsir (3/530)
[10]Tarikh Dimasyqa (22/299) dan Mukhtasharnya (10/155)
[11]Tarikh Dimasyqa (1/503)
[12]Tafsir lbnu Katsir (3/529)
[13]Tarikh Dimasyqa (22/296-297)

Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Kisah Nabi Adam

Ulum
7 min read

Keistimewaan Nabi Sulaiman

Ulum
1 min read

Yusuf Dimasukkan Sumur

Ulum
4 min read