Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Cerita Cintaku Dalam Memahami Sebuah Hubungan

1 min read

Cerita Cintaku Dalam Memahami Sebuah Hubungan – Kesalahanku selama ini adalah Tidak Pernah Mencintai Selain dirimu.

Tak terhitung entah berapa kebahagiaan yang sudah merekah indah. Disaat rindu menyabdakan serapah. Untuk lekas bertemu dalam jelujur waktu yang berbongkah.

Kita pernah percaya bahwa pertemuan merupakan puncak dari sebuah kebahagiaan. Dan rindu adalah kata sakti yang menyulapkan keprihatinan menjadi keharmonisan.

Akan aku sematkan cerita cinta romantis yang sedari dulu terbalutkan bingkai cerita cinta sedih yang berhamburan. Entahlah. Apakah ini termasuk cerita cinta sejati ataukah hanya khayalan yang berkerangka ilusi.

Asal kau tahu saja, bahwa cerita cinta yang kutuliskan ternyata lebih mendilemakan. Lebih mengiris perasaan ketimbang cerita cinta segitiga atau cerita cinta beda agama dari sepasang insan.

Cerita Cintaku Membalurkan Berbagai kenang

Cerita Cintaku Dalam Memahami Sebuah Hubungan

Waktu begitu terasa sangat cepat berlalu disaat kita mencurahkan percakapan-percakapan. Percakapan tentang sebuah mimpi masa depan yang kita rajut bersama harapan.

Rasanya tidak akan pernah ada sesuatu yang mampu memisahkan kita. Tidak akan pernah.

Kesalahanku selama ini adalah menjadikanmu sebagai pangkal alasan dari segala rindu yang tak terobatkan. Sampai-sampai pada suatu tempo, dengan tega dirimu mengucapkan kata perpisahan.

Perpisahan yang bersebab ada seorang pria yang terlebih dulu mendapatkan restu dari kedua orangtuamu. Seorang pria yang mereka anggap lebih pantas bersanding denganmu di pelaminan. Dibanding aku yang serba berselimut kekurangan.

Namun diriku tidak menyesal sedikitpun. Karena bagiku, kebahagiaanmu adalah prioritas yang tak perlu kurasa pilu.

Jika memang ada yang lebih pantas menemani masa depanmu ketimbang diriku, aku rela mengikhlaskan. Aku akan tetap mendoakan agar kebersamaanmu terabadikan.

Tetapi aku mohon satu hal kepadamu, jangan sekalipun menganggap diriku sebagai musuh.

Bukankah sudah sekian banyak kenangan manis yang telah kita lewati dengan berurai tangis. Anggap saja diriku sebagai teman, sekalipun teman jauh yang tiada lagi kau pedulikan.

Aku akan tahu diri dengan posisiku yang sekarang. Seseorang yang istimewa untuk kau kenang.

Aku hanya pria sederhana yang ingin kekasihnya merasakan bahagia. Meski tidak lagi kita bersama.

Kesalahanku selama ini adalah tidak pernah mengisi doaku dengan selain namamu. Dan sialnya aku tak jemu-jemu dalam menekuni namamu di setiap penghujung sembahyangku.

Kau adalah wanita yang sekian matang kurencanakan untuk pendamping masa depan. Masa-masa indah dimana haru biru termusnahkan, namun kini malah tersirnakan.

Aku harus bergegas segera berganti, karena kini dihidupmu telah ada seorang pria yang lebih pantas membersamai.

Ketahuilah, dirimu adalah kebahagiaan yang sudah kuusahakan, meski harus berakhir dengan sebuah kepahitan.

Jangan khawatir, aku akan tetap menghadiri pesta pernikahanmu. Akan kuanggap segala kenang sebagai perilaku dari rasa bimbang.

Aku sadar, bahwa diriku hanyalah kepingan dari masalalumu yang sukar untuk di satukan. Bagiku, dirimu hanyalah ilusi, yang memang tidak akan mewujud sebagai penenang sunyi.

Aku turut bersuka, walau di kedalaman hatiku merasakan kegetiran yang berduka. Aku mencoba tabah, meski air mata telah membuktikan bahwa diriku telah kalah.

Kuucapkan terimakasih atas segala kisah, atas segala rasa yang sudah tercurah. Bagimu, aku adalah sosok yang seharusnya tidak pernah hadir. Tidak hadir meski cuma sesebentar desir.

Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *