Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

Aku Tak Mampu Menahan Rindu

1 min read

Aku Tak Mampu Menahan Rindu

Aku Tak Mampu Menahan Rindu lama-lama

Senja sore ini terasa tak seperti senja di sore-sore sebelumnya.

Senja kemarin merona jingga karena sedang berbahagia.

Kini, temaram ronanya menunjukkan ada sebuah duka.

Senja yang bersamaku di pekan-pekan akhir ini tak lebih dari selimut yang berbalurkan rindu.

Hanya angin sepi. Menghembusi kesendirianku.

Dulu, seketat apapun jadwal aktivitas kita, kita tak pernah absen berkabar. Meski kegiatan yang kita jalani tak berjeda.

Sekarang tidak. Tidak seperti kala itu. Temaram. Suram.

Sedari kejadian itu, kejadian yang membungkam segala perhatianmu.

Kupilih pergi menjauh darimu setelah pertengkaran hebat itu. Entahlah.

Kata-kata terakhir itu menggenang di sanubariku. Dahsyat meremukkan jantungku.

Kata-kata itu membuatku pilu, sesak dan sedih berkecamuk saling menggema.

Kini aku pasrah. Aku tak berdaya untuk meneruskan luka. Aku mengalah. Pergi menanggalkan kisah.

Ini bukan sesuatu yang mudah. Ini berat. Karena disaat cintaku mulai merindang, kita harus berpisah tiba-tiba.

Semenjak itu kita tak saling bertemu. Atau tepatnya sengaja untuk tidak bertemu. Tak peduli.

Tak tegur sapa. Tak mengabarkan berita.

Mungkin kita sedang sama-sama ingin menyendiri. Untuk larut bersama waktu sembari memulihkan keadaan. Karena akupun perlu jeda untuk mengobati luka.

Aku paham, kita sama-sama rindu. Tak perlu membantah. Kita hanya tak mampu untuk jujur mengatakannya.

Aku tahu, rindu telah lama kita sembunyikan. Tapi sungguh, aku bising oleh ronta teriaknya.

Aku Tak Mampu Menahan Rindu

Entah sudah berapa rindu yang kupenjarakan dalam sebuah keterasingan.

Kupaksa melawan rindu, meski sebenarnya akupun terbelenggu. Oleh rindu itu sendiri.

Aku harap ini mimpi. Namun dugaanku keliru. Kenyataannya ini nyata.

Senja kali ini kau tak disampingku. Namun bayangmu tekun menyelinap di khayal-khayalku.

Akhir-akhir ini dirimu kerap hadir di mimpi. Menyapaku. Jelas ini pertanda. Pertanda bahwa hati telah terusik rindu. Namun terbungkam gengsi yang berdayu.

Sungguh aku tak mampu melawan rindu ini. Aku tahu bahwa disana dirimu juga bernuansa tak beda dariku. Disergap rindu dan rapuh menampiknya.

Aku percaya kita saling merindu. Biarlah sementara waktu kita berjibaku dengan rindu. Kita tunggu saja gengsi kita berangsur punah terbisu.

Menahan rindu bukanlah hal ringan. Meski pada nyatanya kita mampu. Namun tetap kelimpungan tak karuan setiap waktu.

Perempuanku, yang kupinta darimu hanya satu perkara, doakan aku semoga tabah. Tabah menangkis rindu. Rindu ingin bertemu, rindu ingin bertegur sapa, rindu ingin bertatap dan ingin meluapkan derap.

Jika benar rasa ini juga kau rasakan, jangan letih untuk terus berdoa. Berdoa untuk kita berdua. Tanpa letih.

Semoga Tuhan lekas mempertemukan kita dalam suasana yang indah. Tiada lagi rasa egois. Tiada lagi percekcokan. Tiada lagi sengketa rasa.

Senja sore ini, berbeda dengan senjaku di hari lalu.

Ulum Pemuda kampung berbasis Pesantren Salaf

One Reply to “Aku Tak Mampu Menahan Rindu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *